Mengubah Pemahaman Terhadap Perpustakaan

Perpustakaan merupakan lembaga yang dinamis, dalam perjalanannya perpustakaan terus mengalami perubahan karena menyesuaikan dengan adanya perkembangan jaman. Pengembangan perpustakaan merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan oleh instansi induk ataupun pustakawan sebagai profesional dibidang perpustakaan. Pemahaman terhadap perpustakaan juga mengalami perubahan seiring dengan munculnya teknologi dan pesatnya arus informasi yang datang di tengah masyarakat. Perpustakaan konvensional yang identik dengan paham koleksi sentris mulai ditinggalkan dan berubah menjadi perpustakaan digital, dimana saat ini telah banyak perpustakaan yang membuka diri untuk mengubah manajemenisasi perpustakaan berbasis pemanfaatan digital sehingga cukup banyak perpustakaan yang telah menggunakan media otomasi dan repositori sebagai layanan unggulan perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi membuat adanya pergeseran peran perpustakaan dimana lembaga ini lebih terbuka terhadap penggunaan internet dan media digital yang digunakan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat ataupun untuk memudahkan mempermudah pekerjaan di internal perpustakaan. Pemahaman pustakawan terhadap perpustakaan di era modern bukan hanya sekedar melihat perubahan aktifitas dari manual ke digital, akan tetapi pemahaman tersebut harus terarah mengikuti fungsi utama perpustakaan yang sebenarnya. Pada era saat ini perpustakaan harus mampu memenuhi tuntutan kebutuhan pasar dengan merancang inovasi layanan yang tepat guna sehingga muncul peluang untuk dapat menarik kembali pemustaka yang mulai beralih pada akses mandiri menggunakan gadget maupun perangkat digital lainnya.

Perpustakaan di era tidak dapat meninggalkan fungsi utama sebagai penyedia informasi cetak, oleh karena itu tantangan besar bagi pustakawan untuk mampu memikirkan konsep pengembangan yang tepat ke depannya. Menurut Eberhart dalam The Librarian’s Book of List (2010, 1)[1] mendefinisikan perpustakaan sebagai suatu kumpulan sumber daya yang dimuat dalam berbagai format dimana (1) perpustakaan diselenggarakan oleh para profesional bidang informasi atau ahli lainnya (2) memberikan akses yang nyaman secara fisik, digital, bibliografi, atau intelektual (3) memiliki target untuk menawarkan layanan dan program (4) memiliki misi mendidik, menginformasikan, atau menghibur masyarakat (5) dan memiliki tujuan untuk merangsang minat belajar individu dan memajukan masyarakat secara keseluruhan. Eberhart menjelaskan pandangannya terhadap perpustakaan di masa teknologi informasi, dimana perpustakaan tetap menjadi pusat sumber daya pengetahuan dengan berbagai bentuk format penyimpanan dan dikelolah oleh profesional pustakawan. Selain itu dalam penjelasan tersebut dikemukakan bahwa pustakawan harus mampu memenuhi target pelayanan dan program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat seperti program kemudahan akses, program pembelajaran dan hiburan yang dapat merangsang potensi belajar masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan di masa depan.

Pemahaman perpustakaan di era teknologi tidak boleh lepas dari fungsi awal perpustakaan yaitu sebagai pusat pendidikan mandiri sepanjang hayat. Pemanfaatan teknologi memang penting dalam hal memudahkan akses informasi secara global, akan tetapi yang terpenting adalah perpustakaan memiliki prodak dan jasa dimana keduanya harus mampu di tawarkan pustakawan pada masyarakat. Prodak perpustakaan adalah buku dan koleksi lain yang berbentuk fisik dan digital, koleksi perpustakaan diadakan bukan hanya untuk disimpan melainkan disebarluaskan kembali pada masyarakat sehingga dapat digunakan sebagai media pendidikan oleh karena itu tugas pustakawan harus mampu menawarkan prodak perpustakaan sehingga masyarakat berminat untuk meminjamnya. Berikutnya adalah prodak jasa dimana jasa diberikan melalui aktifitas pelayanan yang dilakukan oleh pustakawan. Layanan perpustakaan terlihat menarik apabila pustakawan memiliki penampilan menarik, pandai berkomunikasi, cerdas dalam memberikan solusi dan mampu menerapkan program 3S (Senyum, Sapa, Salam). Keberadaan teknologi harus dimanfaatkan dengan baik dan sesuai dengan tujuan perpustakaan, pengembangan perpustakaan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti optimalisasi peran sumber daya, pengunaan teknologi pada layanan tertentu, pengembangan layanan dan sebagainya. Perpustakaan layak disebut sebagai pusat pendidikan mandiri apabila didalamnya memiliki pustakawan yang aktif dalam memberikan layanan, intensitas keterpakaian koleksi yang tinggi, teknologi yang memudahkan akses informasi, komunikasi dan promosi serta kegiatan sosial seperti pendidikan dan pembelajaran bagi masyarakat.

Daftar pustaka :

– [1] Eberhart, George. “The Librarian’s Book of List”. Chicago : ALA, 2010. 1.

Sumber gambar dari : http://www.freeclipart.pw/category/library-clipart

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *