Strategi Pemasaran Perpustakaan Di Era Informasi Dan Kebebasan Ekspresi

Pemasaran dijelaskan oleh Kotler (2002 : 9) sebagai suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Proses pemasaran tidak hanya sekedar menjual sebuah prodak kepada masyarakat, akan tetapi dalam perkembangannya saat ini terdapat aktifitas menciptakan kreatifitas dan inovasi yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada era teknologi informasi, proses pemasaran lebih variatif dan mudah dijalankan karena telah menggunakan media yang dihasilkan oleh teknologi. Salah satu contoh pemasaran yang menarik saat ini adalah keberadaan toko online, beberapa pedagang ataupun perusahaan dagang telah banyak menyediakan laman website yang difungsikan sebagai toko online dimana seluruh informasi terkait dengan prodak yang dijual terdapat pada laman situsnya. Keberadaan toko online jelas memberikan kemudahan-kemudahan pada masyarakat saat ini yang sangat aktif dalam penggunaan internet, hal inilah yang dimanfaatkan sebagian individu maupun organisasi untuk masuk dan menawarkan layanan cepat terhadap kebutuhan masyarakat.
Institusi seperti perpustakaan yang begerak dibidang jasa penyedia informasi perlu melakukan pemasaran sebagai strategi menawarkan informasi untuk kepentingan memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu dengan adanya kegiatan pemasaran maka proses kebermanfaatan informasi menjadi lebih optimal, selain itu kegiatan pemasaran dapat membantu perpustakaan bertahan dalam mengatasi arus persaingan global.
Dalam upaya menjaga konsistensi perpustakaan sebagai lembaga penyedia jasa informasi yang kredibel, maka diperlukan strategi pemasaran dengan memanfaatkan berbagai media yang tersedia di sekitar perpustakaan. Strategi pemasaran tersebut diharapkan dapat membantu menjaga eksistensi perpustakaan dan juga kembali menarik perhatian masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat informasi yang cocok bagi kebutuhan pengembangan pengetahuan masyarakat. Adapun strategi pemasaran yang dapat diterapkan dalam upaya menarik minat masyarakat adalah sebagai berikut ;

  1. Analisis Kebutuhan
    Ada dua analisis kebutuhan yang perlu dilihat oleh pustakawan dalam upaya melakukan kegiatan pemasaran perpustakaan di era sekarang, dimana keduanya memiliki keterkaitan dalam kegiatan pemasaran perpustakaan yaitu ;
    a. Analisis kebutuhan pasar, Perpustakaan harus paham tentang siapa masyarakat penggunanya sehingga proses pemasaran dapat dilakukan secara efektif dan tepat sasaran. Sebagai contoh, kegiatan promosi perpustakaan sekolah memiliki sasaran yaitu masyarakat golongan remaja dan anak-anak, hal ini karena perpustakaan sekolah berfungsi menyediakan informasi ilmu pengetahuan yang digunakan untuk proses pengembangan kecerdasan anak usia dini. Analisis kebutuhan pasar dilakukan untuk melihat perkembangan tren penggunaan informasi di lingkungan masyarakat pengguna perpustakaan yang telah ditetapkan sebagai sasaran. Analisis terhadap kebutuhan informasi masyarakat dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi pustakawan untuk membentuk program pemasaran yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Analisis tersebut dapat dijalankan dengan melihat data tren penggunaan koleksi perpustakaan, jenis koleksi yang sering di pinjam ataupun beberapa saran yang masuk dari pengguna tetap perpustakaan.
    b. Analisis ketersediaan informasi, salah satu kebutuhan yang harus diperoleh masyarakat digital adalah informasi, ketersediaan informasi yang up to date dan berkualitas merupakan tuntutan masyarakat terhadap institusi penyedia layanan jasa informasi. Pustakawan harus melakukan analisis ketersediaan informasi sebelum melakukan kegiatan pemasaran, salah satu hal terpenting adalah melihat besaran jumlah koleksi perpustakaan yang terbaru dan relevan dengan kebutuhan penggunanya. Dengan jumlah koleksi terbaru yang cukup, maka ada jaminan proses pemasaran perpustakaan dapat berjalan lancar. Akan tetapi jika perpustakaan memiliki koleksi baru dengan jumlah terbatas maka proses pemasaran tidak akan berjalan baik karena masyarakat digital membutuhkan informasi yang update dan relevan dengan kebutuhannya, sehingga di kawatirkan mereka dapat menjadi sangat kritis mengungkapkan kekecewaan apabila kebutuhannya tidak terpenuhi.
  2. Optimalisasi program duta pustaka
    Perpustakaan harus memiliki seorang ambasador yang berfungsi untuk memperkenalkan perpustakaan kepada masyarakat. Salahsatu upaya perlu dilakukan yaitu dengan membentuk program pemilihan duta pustaka/perpustakaan yang memiliki tugas mempromosikan layanan, fasilitas, prodak informasi perpustakaan. Duta pustaka dapat berasal dari eksternal perpustakaan seperti mahasiswa, siswa, ataupun masyarakat yang dipilih melalui proses seleksi. Duta pustaka harus memiliki kecakapan berkomunikasi dengan baik sehingga mampu mempengaruhi masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan. Duta pustaka harus terlibat pada setiap kegiatan perpustakaan seperti event seminar, workshop, publikasi media ataupun kegiatan lain yang berkaitan dengan program promosi perpustakaan.


  3. Membangun blog bagi netizen
    Perpustakaan saat ini dihadapkan pada permasalahan baru akibat dari adanya arus perkembangan teknologi digital yaitu munculnya masyarakat baru yang dikenal dengan istilah netizen. Masyarakat netizen muncul karena adanya pemanfaatan teknologi yang berlebih pada masyarakat konvensional sehingga mereka menjadi sangat aktif menyeruhkan pendapat, gagasan, perasaan senang, ataupun ketidaksukaan melalui internet. Perpustakaan harus dapat melihat peluang dari adanya masyarakat netizen seperti yang dilakukan oleh perusahaan jasa informasi lain seperti kompas, detik.com dan sebagainya. Kompas merupakan salah satu perusahaan yang melihat peluang dari adanya masyarakat netizen yaitu dengan menyediakan fasilitas berupa blog kompasiana, dimana netizen dapat menuangkan kreatifitas, gagasan, kritik, saran, dalam bentuk penulisan artikel yang di publikasikan melalui halaman blognya. Perpustakaan dapat mengadopsi inovasi dari perusahaan jasa seperti kompas dengan memberikan ruang kebebasan dalam bentuk penyediaan halaman web blog yang nantinya dapat digunakan oleh netizen ataupun pengguna aktif perpustakaan sebagai wadah menuangkan keterampilan menulis. Keberadaan web blog dapat menjadi penghubung antara perpustakaan dengan masyarakat, dimana keduanya dapat saling berinteraksi satu sama lainnya. Selain website perpustakaan, blog dapat digunakan sebagai wadah promosi perpustakaan dan menyampaikan informasi pada masyarakat, pustakawan juga dapat ikut aktif berpartisipasi dalam hal publikasi pada laman web blog baik sebagai penulis ataupun editor konten. Gagasan pengembangan blog membutuhkan anggaran yang besar karena terkait dengan pengadaan sarana teknologi, namun apabila diupayakan melakukan kerjasama dengan pihak luar seperti melalui CSR perusahaan maka peluang untuk membangun inovasi seperti blog perpustakaan dapat berjalan dengan baik.
  4. Menyediakan ruang kreatifitas bagi komunitas
    Salah satu fungsi perpustakaan adalah memberikan ruang pengembangan keterampilan bagi masyarakat. Fungsi ini dapat dikembangkan oleh perpustakaan dengan cara memberikan ruang kreatifitas bagi masyarakat untuk meningkatkan bakat terhadap suatu bidang terutama bagi para komunitas. Perpustakaan dapat melakukan kerjasama dengan para komunitas di wilayah masing-masing seperti dalam hal memberikan kemudahan bagi komunitas untuk mendapatkan informasi sesuai bidangnya, ataupun memberikan fasilitas kepada komunitas untuk mempublikasikan karyanya melalui pameran di perpustakaan. Program lain yang dapat diberikan perpustakaan dalam upaya memberikan ruang kreatifitas bagi komunitas adalah dengan memberikan akses masuk bagi komunitas untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Salah satu contoh menyediakan ruang publik untuk kegiatan workshop, menyediakan fasilitas menarik bagi komunitas fotografi dan sinematografi dan sebagainya. Strategi seperti ini dapat membantu proses pemasaran perpustakaan dikarenakan komunitas dapat menjadi relasi antara perpustakaan dengan masyarakat.

 

Sumber :
Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Jakarta : Prehallindo, 2002.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *