Dialog Kritis Terhadap Layanan Informasi Berbasis Otomasi

Dialog berikut merupakan bentuk interaksi antara pustakawan dengan penggunanya, percakapan ini menampilkan ketidakpuasan pengguna terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas perpustakaan.

Student : “Good morning sir, I’m looking for a book about embroidery, can you help me?”
Librarian : “Try to find it through OPAC ..”
Student : “what is that ?”
Librarian : “OPAC is an information retrieval system and search using for books in libraries.”
Student : “Sorry sir, I feel if librarians can help us get books need, but if you direct use the OPAC and what do you as a librarian?”

Teknologi informasi mempengaruhi perkembangan perpustakaan, salah satu yang terlihat adalah kedatangan OPAC dengan fungsi memberikan kemudahan pada pengguna untuk mencari informasi di perpustakaan. OPAC disambut positif oleh pustakawan karena manfaatnya dapat membantu mengurangi aktifitas pelayanan informasi. Sistem otomasi perpustakaan menyediakan beberapa kemudahan menu dalam hal manajemen koleksi sehingga proses administrasi koleksi dapat dikerjakan secara efektif.

Dialog diatas menjelaskan bahwa telah muncul masalah mendasar terhadap proses pelayanan akibat dari pemanfaatan OPAC. Pustakawan terlalu bergantung pada OPAC sehingga kebutuhan pengguna terhadap informasi selalu diarahkan pada penggunaan sistem informasi sehingga menuntun pengguna untuk mencari sendiri informasi yang dibutuhkan. Pada dialog tersebut disimpulkan bahwa tidak semua pengguna perpustakaan mengerti tentang penggunaan sistem otomasi, oleh karena itu beberapa pengguna tersebut lebih cenderung mengandalkan pustakawan untuk membantu menemukan informasi yang dibutuhkan. Pustakawan perlu meninjau karakteristik pengguna sebelum menjalankan kebijakan penggunaan sistem otomasi, artinya bahwa pemanfaatan OPAC pada perpustakaan perguruan tinggi dapat berjalan efektif karena sasarannya adalah mahasiswa yang memiliki keterampilan memahami secara mandiri kebutuhan informasinya. Sementara itu pemanfaatan OPAC pada perpustakaan sekolah belum tentu berjalan maksimal karena penggunanya merupakan siswa yang masih membutuhkan dukungan dalam hal akses informasi. Oleh karena itu penggunaan sistem otomasi pada perpustakaan sekolah dapat diterapkan hanya untuk kepentingan administratif, sedangkan pemanfaatan OPAC masih perlu membutuhkan peran pustakawan sehingga implementasi akses terhadap informasi dapat berjalan efektif.

Peran pustakawan sangat penting dalam proses penyebaran informasi, hal ini didasari pada kemampuan yang sangat baik dari pustakawan dalam proses manajemen informasi. Peranan tersebut harus dioptimalkan oleh pustakawan untuk mendampingi pemustaka mendapatkan informasi yang diharapkan. Proses pelayanan dapat dilakukan dengan menggunakan media pencarian seperti OPAC sehingga pustakawan mampu menemukan informasi secara tepat dan memberikan pendidikan bagi pengguna tentang prosedur pencarian yang benar pada pengguna perpustakaan. Peningkatan pemahaman dan pengetahuan prodak informasi perpustakaan perlu dilakukan oleh pustakawan supaya tercipta efektifitas pelayanan informasi, selain itu pustakawan dapat menggunakan OPAC sebagai media pendukung sehingga kepuasan pengguna dapat terjaga.

Kepuasan pengguna tidak ditentukan pada kecanggihan sistem informasi yang dimiliki perpustakaan, hal terpenting dalam penilaian kepuasan pengguna perpustakaan terletak pada komitmen pustakawan memberikan pelayanan secara profesional dan menjaga kualitas pelayanan dengan melakukan pendampingan pada pengguna hingga kebutuhannya terpenuhi. Pustakawan perlu melihat karakteristik masyarakat sebelum melakukan pengembangan layanan, analisis pengguna sangat penting dilakukan guna mewujudkan layanan prima dan meningkatkan nilai guna perpustakaan.

Teknologi informasi telah memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, hal ini perlu diantisipasi oleh pustakawan karena semakin tinggi pemanfaatan teknologi maka tingkat tuntutan masyarakat terhadap kemudahan pelayanan publik menjadi meningkat sehingga mampu menciptakan kritik terhadap organisasi penyedia layanan publik. Pustakawan harus cerdas mengoptimalkan teknologi informasi dan meningkatkan keterampilan pelayanan berbasis kepuasan masyarakat sehingga peran pustakawan saat ini tidak hanya sebagai penyedia informasi tetapi mampu menempatkan profesinya sebagai konsultan informasi yang dapat memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *