Pekerjaan Rumah Bagi Perpustakaan Tertinggi Di Dunia

Pekerjaan Rumah Bagi Perpustakaan Tertinggi Di Dunia

Pada hari kamis tanggal 14 September 2017 menjadi hari bersejarah bagi pendidikan di Indonesia, dimana pada waktu itu Presiden Joko Widodo melakukan peresmian gedung baru milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Fakta menarik dari peresmian tersebut terletak pada pernyataan Presiden yaitu perpustakaan yang dibangun di lahan seluas 11.975 meter persegi ini merupakan perpustakaan tertinggi di dunia. Sebagai warga negara kita perlu bangga terhadap prestasi tersebut karena ke depannya perpustakaan nasional dapat menjadi ikon destinasi wisata pendidikan bagi masyarakat Indonesia dan tentunya bagi warga negara asing yang berkunjung ke Indonesia. Gedung baru perpustakaan nasional memiliki 24 lantai dengan tinggi mencapai 126, 3 meter dan biaya pembangunan menghabiskan anggaran kurang lebih 465 miliar rupiah. Menengok ke dalam terdapat berbagai layanan yang dikatakan sangat lengkap untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, selain itu fasilitas dikonsep ramah lingkungan dan dilengkapi dengan perangkat jaringan serta sistem keamanan RFID.

Informasi yang dihimpun melalui laman CNN Indonesia menjelaskan bahwa gedung baru perpustakaan nasional dilengkapi fasilitas ramah anak, memiliki layanan inklusif bagi penyandang disabilitas dan layanan laktasi yang diperuntuhkan bagi ibu menyusui. Fasilitas berbasis teknologi juga disediakan disana yaitu adanya pusat data koleksi berteknologi Tier3 dan telelift (sistem transportasi buku otomatis). Layanan dan fasilitas perpustakaan nasional sangat memanjakan masyarakat, oleh karena itu kita perlu bermimpi untuk berkunjung ke perpustakaan tertinggi di dunia tersebut.

Euforia terhadap peresmian gedung baru perpustakaan nasional perlu kita nikmati sebagai bagian dari apresiasi masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam mewujudkan pembangunan pusat studi dan budaya bangsa dalam bentuk perpustakaan. Akan tetapi dibalik pencapaian peresmian gedung perpustakaan tertinggi di dunia terselip beberapa pekerjaan rumah yang masih harus dibenahi serta dicarikan jalan keluar terbaik. Adapun pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab pemerintah terhadap dunia kepustakawanan di Indonesia adalah sebagai berikut ;

  1. Budaya baca dan tulis masyarakat masih rendah
    Berdasarkan studi dari Most Littered Nation In the World 2016 di lansir pada laman berita online tribunnews.com menjelaskan bahwa minat baca di Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61 negara . Program pendirian taman bacaan masyarakat memang semakin banyak diselenggarakan dan beberapa diantaranya telah berjalan dengan baik sebagai wadah belajar masyarakat, akan tetapi terobosan tersebut masih belum mampu meningkatkan budaya baca dan tulis. Tingginya pengaruh kebiasaan menonton dan lisan melalui media visual membentuk pola pikir masyarakat yang lebih menikmari menonto televisi daripada membaca buku karena kegiatan tersebut masih dirasa sangat membosankan. Selain itu kurangnya perhatian terhadap distribusi buku yang merata di masing-masing daerah memunculkan kesenjangan pendidikan yang menyebabkan adanya ketimpangan sumber ilmu pengetahuan antara daerah dan kota. Hal ini diperberat dengan tingginya intensitas penggunaan media sosial berbasis internet, penyebaran informasi HOAX, tingginya pemanfaatannya hiburan online dan sebagainya. Minimnya budaya baca diimbangi pula dengan kurangnya kebiasaan menulis pada masyarakat sehingga produksi karya cipta masyarakat yang dituangkan dalam bentuk karya cetak masih cukup rendah. Peningkatkan budaya baca dan tulis menjadi tanggung jawab pemerintah melalui perpustakaan nasional dan kementerian terkait, oleh karena itu dibutuhkan komitmen dan kebijakan yang tepat dalam pembangunan budaya cerdas pada masyarakat sehingga dapat berjalan optimal dan tepat sasaran.
  2. Masih terbatasnya jumlah perpustakaan di Indonesia
    Pembangunan perpustakaan nasional tertinggi di dunia belum diimbangi dengan pemerataan gedung perpustakaan yang memenuhi standar nasional kelayakan perpustakaan. Salah satu kurangnya perhatian terhadap penyelenggaraan perpustakaan adalah pada tingkat sekolah dimana data dari perpusnas menyebutkan dari 258 ribu lebih sekolah di Indonesia hanya sekitar 118.599 sekolah yang memiliki perpustakaan, hasil ini jelas terus mengalami perubahan mengingat adanya indikasi pendirian sekolah-sekolah baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Peningkatan kepedulian instasi sekolah terhadap perpustakaan menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pemerintah ditengah euforia peresmian gedung perpustakaan nasional.
  3. Kesenjangan di dalam profesi pustakawan
    Pustakawan adalah profesi yang bertanggung jawab terhadap pengembangan perpustakaan serta melakukan proses manajemen terhadap prodak informasi di perpustakaan. Saat ini cukup banyak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi ilmu perpustakaan dengan tujuan mencetak bibit pustakawan baru yang profesional dan berkomitmen dalam meningkatkan kualitas perpustakaan. Setiap tahun calon pustakawan baru selalu lahir pasca prosesi wisuda di setiap perguruan tinggi penyelenggaran prodi perpustakaan, akan tetapi semangat calon pustakawan untuk menerapkan ilmunya di dunia kerja belum diimbangi dengan kebijakan kesejahteraan pustakawan. Hal ini dapat dilihat dari besaran gaji yang diterima pustakawan jenjang sarjana yang tidak kurang dari upah minimun regional. Temuan di lapangan masih banyak teman-teman pustakawan yang mendapatkan gaji lebih kecil dari seorang buruh pabrik, sedangkan tuntutan kerja terhadap pustakawan sangat besar serta resiko kesehatan yang di tanggung juga sangat tinggi mengingat mereka harus berhadapan dengan debu, larva dan hewan kecil lain di dalam sebuah buku yang berpotensi menimbulkan gejala penyakit. Faktor lain adalah muncul kesenjangan didalam profesi pustakawan yang terjadi karena adanya pandangan calon pustakawan terhadap kemudahan yang diberikan pemerintah pada profesi lain yang ingin menjadi pustakawan melalui jalur diklat.
  4. Melakukan kajian terhadap UU No 43 Tahun 2007
    Pekerjaan rumah lainnya dari perpustakaan nasional yang perlu dikerjakan adalah membentuk tim khusus pengkaji UU No 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Perpustakaan nasional perlu melibatkan beberapa ahli untuk mengkaji tentang sejauhmana implementasi undang-undang perpustakaan yang telah berjalan kurang lebih 10 tahun. Kajian terhadap undang-undang perpustakaan dilakukan atas dasar adanya perkembangan perpustakaan yang mengalami kemajuan pesat dan berbagai inovasi lahir akibat adanya peran teknologi terbaru serta kebutuhan masyarakat yang tinggi terhadap informasi, selain itu beberapa pasal perlu dikaji ulang karena minimnya implementasi terhadap pasal-pasal tersebut seperti halnya pasal 23 ayat 6 yaitu sekolah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit/minimal 5% dari anggaran belanja operasional sekolah atau belanja barang diluar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan.
    Kajian terhadap undang-undang perpustakaan memang perlu dilakukan oleh perpustakaan nasional sebagai bahan evaluasi/masukan guna membentuk kebijakan baru yang lebih tegas. Selain itu hasil kajian dapat pula digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pemerintah pusat melalui dewan legislatif sehingga diharapkan dapat menghasilkan pembahasan lanjutan mengenai kemungkinan adanya revisi undang-undang perpustakaan.

 

Sumber referensi :

_________, Memprihatinkan, Ternyata Minat Baca Indonesia Duduki Peringkat 60 dari 61 Negara, diakses dalam http://www.tribunnews.com/regional/2017/05/15/memprihatinkan-ternyata-minat-baca-indonesia-duduki-peringkat-60-dari-61-negara, pada tanggal 19 September 2017

Sumber gambar :

https://www.edunews.id/edunews/pendidikan/syarid-bando-putra-enrekang-jadi-kepala-perpustakaan-nasional/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *