Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Dalam Bentuk Ekstrakurikuler “Kelas Menulis” Di Sekolah Dasar Negeri 2 Burengan Kediri

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Dalam Bentuk Ekstrakurikuler “Kelas Menulis” Di Sekolah Dasar Negeri 2 Burengan Kediri

Gerakan literasi sekolah merupakan program pemerintah dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa terhadap sekolah meliputi pengetahuan tentang kegiatan sekolah, kurikulum pembelajaran , fasilitas pendidikan di sekolah, lingkungan sekolah, budaya sekolah, dan aktifitas lain di dalam sekolah yang memberikan manfaat positif bagi siswa, guru dan orang tua murid. Gerakan literasi sekolah dikembangkan dengan berbagai macam program kegiatan yang diterapkan pada tingkap sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Program literasi sekolah yang dapat dijumpai di sekolah seperti adanya kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, perpustakaan kelas, taman pustaka, dan kegiatan literasi lain yang berhubungan dengan pengembangan keterampilan siswa.

Implementasi gerakan literasi sekolah memang belum sepenuhnya berjalan lancar karena masih terdapat beberapa sekolah yang masih belum siap untuk melaksanakan gerakan tersebut. Gerakan literasi sekolah tetap perlu mendapatkan apresiasi karena tujuan program ini adalah untuk membangun generasi bangsa berkarakter dan berbudaya sehingga proses regenerasi bangsa menghasilkan prodak terbaik dalam bentuk masyarakat cerdas Indonesia. Mengingat saat ini semakin berkembangnya teknologi dan sebaran informasi yang pesat maka penguatan karakter pada generasi muda sangat perlu ditanamkan sejak dini melalui praktik-praktik literasi dalam bentuk kegiatan membangun budaya baca dan tulis bagi siswa sekolah.

Gerakan literasi sekolah harus dilakukan secara linier dan bertahap artinya bahwa gerakan tersebut harus mulai diprogramkan pada tingkat sekolah dasar hingga SMA sehingga hasil yang diperoleh adalah kualitas lulusan dengan berbekal karakter dan budaya yang telah dilatih sejak masih duduk di sekolah dasar. Gerakan literasi sekolah (GLS) pada tingkat sekolah dasar memiliki konsep dan praktik yang berbeda, dimana pada tingkatan sekolah dasar gerakan tersebut harus dirancang menggunakan metode yang tepat dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Oleh karena itu gerakan literasi sekolah tingkat SD perlu dibuat menarik dan kreatif tetapi tidak menghilangkan unsur edukatif pada anak seperti memperbanyak buku bacaan anak bergambar, fiksi anak, dan tentunya merancang perpustakaan yang ramah anak. Seluruh elemen di lingkungan sekolah dasar perlu dilibatkan dalam praktik gerakan literasi sekolah khususnya perpustakaan. Pustakawan perlu terlibat aktif dalam kegiatan gerakan literasi sekolah seperti kegiatan budaya baca dan tulis, menyediakan buku bacaan anak populer, dan melakukan pelayanan edukatif pada anak.

Gerakan literasi sekolah perlu dirancang menarik tetapi tetap mengandung unsur edukasi bagi anak didik, salah satu sekolah dasar yang memiliki komitmen terhadap peningkatan karakter siswa melalui gerakan literasi sekolah adalah SD Negeri 2 Burengan Kediri. Sekolah dasar tersebut melalui inovasi terhadap gerakan literasi sekolah dengan melakukan kegiatan ekstrakurikuler “Kelas menulis”. Upaya pihak kepada sekolah yang mengemas konsep literasi sekolah dalam bentuk kelas menulis merupakan langkah sekolah dalam mewujudkan siswa yang kreatif dan memupuk kemampuan siswa untuk menuangkan ide, pengetahuan dan perasaan dalam sebuah tulisan.

1. Jalan Panjang Implementasi “Kelas Menulis” Di SD Negeri 2 Burengan

Kegiatan ekstrakurikuler “Kelas Menulis” yang diselenggarakan oleh SD Negeri 2 Burengan Kediri melewati proses panjang dalam peresmiannya. Langkah pihak kepala sekolah untuk memasukkan kegiatan tersebut dalam laporan kegiatan sekolah harus menunggu keputusan presiden terkait dengan penyelenggaraan Full Day School. Pada tahun ajaran baru 2017/2018 kegiatan “Kelas Menulis” masuk dalam ektrakurikuler sekolah dan mulai ditawarkan kepada siswa kelas 4 dan 5 serta diketahui oleh wali murid.

 

Ekstrakurikuler “Kelas Menulis” terasa sangat baru bagi siswa dan wali murid karena memang hal tersebut belum pernah diselenggarakan sebelumnya di sekolah. Selain itu terdapat beberapa pilihan ekstrakurikuler lain yang lebih menarik bagi siswa seperti drumband, vocal, keyboard, MIPA, karawitan dan basket. Oleh karena itu kepala sekolah, pustakawan dan pihak calon mentor “Kelas Menulis” tidak terlalu berharap terhadap hasil pilihan siswa pada ektrakurikuler tersebut.

Hasil akhir polling terhadap ekstrakurikuler pilihan siswa menunjukkan bahwa peminat “Kelas Menulis” diluar dugaan dari pihak kepala sekolah, dimana jumlah siswa yang memilih ekstrakurikuler “Kelas Menulis” berjumlah 55 siswa lebih yang terdiri dari kelas 4 dan 5. Hasil ini tentunya sangat mengejutkan mengingat ektrakurikuler tersebut merupakan kegiatan baru yang diselenggarakan oleh sekolah. Besarnya antusiasme siswa dan wali murid terhadap ekstrakurikuler tersebut meningkatkan optimisme pihak sekolah terhadap gerakan meningkatkan budaya baca dan tulis di lingkungan sekolah, oleh karena itu dalam praktek di lapangan kegiatan “Kelas Menulis” dipisah menjadi 2 kelas yaitu kelas menulis 4 dan kelas menulis 5.

2. Tujuan ektrakurikuler “Kelas Menulis”

Ekstrakurikuler “Kelas Menulis” diselenggarakan bukan hanya sebagai implementasi gerakan literasi sekolah di lingkungan SD Negeri 2 Burengan, namun karena pertimbangan penerapan full day school maka pihak kepala sekolah menyetujui kerjasama “Kelas Menulis” dengan tujuan program tersebut mampu meningkatkan penguatan karakter siswa terutama pengembangan bakat siswa membuat karya tulis. Kepala sekolah memiliki tujuan lain dari kerjasama ini yaitu membantu pengembangan kinerja pustakawan karena ektrakurikuler “Kelas Menulis” melibatkan perpustakaan sebagai fasilitas baca siswa dan pustakawan dilibatkan sebagai mentor kelas menulis khususnya bagi siswa kelas 4 (empat).

Tujuan utama “Kelas Menulis” bukan mendidik siswa melalui program pengajaran tentang teknis penulisan karena materi tersebut tentunya sudah mereka peroleh melalui pelajaran bahasa Indonesia, tetapi ekstrakurikuler “Kelas Menulis” menjadi wadah siswa menuangkan kreatifitas, gagasan, ide, pengalaman, kemampuan hingga perasaan mereka dalam bentuk tulisan, sedangkan mentor hanya bertindak sebagai pembimbing dan pendamping yang mengarahkan dan memberikan masukan terhadap tulisan-tulisan yang dibuat siswa. Penerapan ekstrakurikuler “Kelas Menulis” dapat memberikan banyak manfaat bagi siswa, guru dan tentunya orang tua murid. Beberapa manfaat tersebut antara lain (1) terpenuhinya keinginan anak menuliskan kesenangan, kegembiraan, kegelisahaan, kesedihan, pengalaman dan keterampilan yang ada pada dirinya, (2) sekolah menyediakan wadah bagi siswa yang memiliki kegemaran menulis, (3) orang tua dan guru dapat melihat karaktek anak dari tulisan yang dibuat, (4) tumbuhnya rasa bangga dari siswa karena mereka mampu membuat hasil karya dengan usahanya sendiri, (5) membangun motivasi anak untuk tetap bermimpi dan bercita-cita, (6) menjadi media sekolah dalam membantu mencetak generasi baru berkarakter dan semangat belajar.

3. Implementasi ekstrakurikuler “Kelas Menulis”

Kegiatan ekstrakurikuler “Kelas Menulis” diselenggarakan setiap hari Kamis pukul 14.00 WIB, pada jam tersebut siswa kelas 4 dan 5 sudah selesai kegiatan belajar di kelas dan mulai dengan kegiatan ekstrakurikuler. Cukup banyak kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan oleh sekolah, salah satunya adalah kelas menulis. Setiap pukul 14.00 WIB siswa kelas 4 dan 5 sudah mulai berada di dalam kelas masing-masing yang khusus digunakan untuk ekstra “Kelas Menulis”. Ruangan dibuat terpisah karena jumlah peserta mencapai sekitar 55 siswa, oleh karena itu untuk kelas 4 berada di ruang tersendiri karena jumlahnya lebih dari 15 siswa, sedangkan ruang lainnya digunakan untuk anak kelas 5.

Ruangan dibuat terpisah karena metode yang digunakan untuk kelas 4 berbeda dengan yang diterima kelas 5, walaupun memang secara materi hampir sama. Selain itu faktor kedekatan emosional dan kebiasaan berteman menjadi salah satu alasan lain ruangan dipisah. Pengalaman menarik terjadi saat pertama kali ekstrakurikuler dimulai, dimana pada waktu itu ruang kelas yang digunakan untuk siswa kelas 5 tidak cukup menampung jumlah peserta. Jumlah peserta kelas 5 yang mengikuti ekstra “Kelas Menulis” sebesar 35 orang lebih sedangkan kapasitas ruangan hanya cukup menampung 30 orang saja, oleh karena itu beberapa siswa laki-laki memilih untuk duduk di lantai dengan menggunakan kursi panjang sebagai pengganti meja. Besarnya antusiasme siswa mengikuti ekstra ini membuat ruangan yang digunakan oleh kelas 5 menjadi penuh, akan tetapi semangat anak-anak untuk mengikuti ekstra ini membuat suasana “Kelas Menulis” menjadi lebih hidup.

Kegiatan yang dilakukan siswa peserta ekstrakurikuler “Kelas Menulis” adalah menulis materi sesuai instruksi yang diberikan oleh mentor. Setiap siswa diberikan keleluasaan menulis sesuai yang dipikirkan dengan durasi waktu satu jam. Pada pertemuan awal, setiap siswa diberikan misi untuk menulis tentang diri sendiri mulai dari nama lengkap, panggilan, alamat, hobi, nama orang tua dan buku yang disukai. Setelah misi selesai dilaksanakan maka mentor membuat kuis dengan menunjuk beberapa siswa untuk membacakan tulisan dari beberapa temannya. Tujuan materi ini adalah mengajak siswa lebih mengenal teman sebayanya dengan membaca tulisan dari teman yang bersangkutan, selain itu tujuan lain adalah memberikan pemahaman kepada siswa tentang tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat dibaca. Hal ini perlu diberitahukan karena beberapa siswa merasa kesulitan membaca tulisan dari temannya sehingga meminta bantuan teman lainnya. Konsep “Kelas Menulis” adalah belajar dan bergembira artinya bahwa siswa diberikan kebebasan untuk berpikir dan menuangkan ide dalam bentuk tulisan, selain itu siswa diberikan hak bertanya pada mentor. Selain itu semua siswa tidak dibebani dengan pekerjaan rumah (PR) sehingga kegiatan menulis dilakukan di sekolah dan dilanjutkan pekan depan apabila misi siswa belum selesai.

Beberapa materi telah disiapkan oleh tim mentor yang diharapkan membantu siswa lebih kreatif dalam menulis. Materi tersebut meliputi resume buku bacaan yang dimiliki perpustakaan, membuat cerita pendek, menulis cerita rakyat, menulis cita-cita, membuat karya ilmiah anak dan mengajak siswa berimajinasi dengan merancang novel anak bersama-sama. Semua materi tersebut di berikan bertahap selama satu tahun sehingga target akhir dari kegiatan “Kelas Menulis” menghasilkan karya-karya yang ditulis oleh siswa.

4. Simpulan
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang saat ini menjadi program prioritas pemerintah dalam meningkatkan mutu dan kualitas generasi muda merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu peran masyarakat perlu dilibatkan dalam kegiatan pengembangan literasi sekolah. SD Negeri 2 Burengan Kediri telah berpartisipasi dalam membangun sekolah dasar berbasis full day school, oleh karena itu pengembangan karakter siswa menjadi salah satu program sekolah dalam meningkatkan kualitas generasi muda. Ektrakurikuler “Kelas Menulis” merupakan bentuk kerjasama antara pihak sekolah dengan masyarakat khususnya para pegiat perpustakaan. Oleh karena itu kegiatan ini dapat dioptimalkan semua pihak untuk menjadi wadah meningkatkan pengembangan diri terutama dalam menguatkan bakat siswa melalui kegiatan menulis karya.

Ekstrakurikuler “Kelas Menulis” merupakan bentuk kepedulian pegiat perpustakaan dalam membangun budaya cerdas sejak dini melalui penguatan minat baca dan tulis bagi siswa sekolah dasar, oleh karena itu kerjasama dengan pihak SD Negeri 2 Burengan dioptimalkan guna mencetak bibit-bibit berkualitas di wilayah Kediri.
Kegiatan ekstrakurikuler “Kelas Menulis” diharapkan menjadi percontohan bagi sekolah dasar lain di wilayah Kediri atau juga kota lain. Harapan dari terselenggaranya program ini adalah semakin banyak sekolah peduli dengan gerakan budaya menulis yang merupakan bagian penting dari program literasi sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *