Mengenal Kembali Sistem Klasifikasi Perpustakaan

Mengenal Kembali Sistem Klasifikasi Perpustakaan

Bagi sebagian besar pustakawan maupun tenaga teknis perpustakaan yang memiliki latar belakang pendidikan perpustakaan pasti sudah mengenal sistem klasifikasi perpustakaan, hal ini karena materi klasifikasi menjadi salah satu mata kuliah prioritas yang harus dikuasi oleh para calon pustakawan. Sistem klasifikasi juga telah diperkenalkan pada kegiatan diklat-diklat kepustakawanan dengan tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan teknis perpustakaan pada setiap calon pustakawan baru yang berasal dari diklat perpustakaan. Sistem klasifikasi perpustakaan masih menjadi bagian penting dalam sistem perkembangan perpustakaan. Mengingat saat itu transformasi perpustakaan berbasis teknologi informasi semakin gencar didengungkan akan tetapi pemanfaatan sistem klasifikasi tetap menjadi bagian fundamental dalam pengelolaan perpustakaan.

Sistem klasifikasi pada dasarnya terdiri dari beberapa jenis seperti Library Congress Classification (LCC), Universal Decimal Classification (UDC), Dewey Decimal Classification (DDC), National Technical Information Services (NTIS), dan lainnya. Akan tetapi sebagian besar perpustakaan di Indonesia lebih familiar menggunakan Dewey Decimal Classification (DDC) sebagai alat menentukan notasi (nomor klas) sebuah koleksi.

Menurut Zen (2009: 24) Dewey Decimal Classification (DDC) merupakan bagan klasifikasi sistem hirarki yang menganut prinsip desimal untuk membagi semua bidang ilmu pengetahuan. Dewey Decimal Classification (DDC) terdiri dari 10 klas utama yang dibagi lagi menjadi sub klas khusus yang lebih spesifik. Dewey Decimal Classification (DDC) dibagi dalam 10 klas utama dengan menggunakan angka persepuluhan antara lain ;

000 – 099 Karya umum
100 – 199 Filsafat/psikologi
200 – 299 Agama
300 – 399 Ilmu Sosial
400 – 499 Bahasa
500 – 599 Ilmu pengetahuan murni/matematika
600 – 699 Ilmu pengetahuan terapan/teknologi
700 – 799 Seni, olahraga, hiburan
800 – 899 Kesusasteraan
900 – 999 Biografi, sejarah

Menurut Darmono (2007 ; 120) Dewey Decimal Classification (DDC) memiliki dua prinsip utama sebagai sebuah sistem klasifikasi antara lain ;

  1. Klasifikasi berdasarkan disiplin, yaitu bahwa pengelompokan koleksi tidak hanya berdasarkan pada subjek saja, tetapi juga berdasarkan disiplin ilmu. Misalkan koleksi dengan subjek keluarga kemungkinan dapat dikelompokan dalam klas etika, agama, sosiologi, maupun rumah tangga. Hal ini tergantung pada pendekatan yang digunakan penulisan yang dibuat oleh pengarangnya.
  2. Bersifat hierarki, artinya pembagian notasi berkembang mulai dari umum sampai khusus dengan diambil garis penghubung dari disiplin ilmu ke subjek. Pada Dewey Decimal Classification (DDC) ilmu pengetahuan dikelompokan menjadi 10 klas utama dan masing-masing klas tersebut dibagi lagi menjadi 10 divisi, dan kemudian dibagi lagi menjadi 10 seksi dan dari seksi tersebut dibagi lagi menjadi 10 subseksi.

Mempelajari sistem klasifikasi perpustakaan seperti Dewey Decimal Classification (DDC) memang tidaklah mudah karena membutuhkan keterampilan dan ketekunan untuk dapat menjadi seorang classifier profesional. Akan tetapi seorang pustakawan saat ini telah diberikan kemudahan terhadap pengetahuan klasifikasi karena telah berkembang berbagai komunitas khusus yang bergerak dalam pengengembangan sistem klasifikasi seperti munculnya komunitas e-DDC yang bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pustakawan dalam mempelajari dan menggunakan sistem klasifikasi khususnya bagi perpustakaan sekolah. Sebagai seorang pustakawan sudah sewajibnya memiliki keterampilan dasar sistem klasifikasi karena kemampuan itu menjadi salah satu syarat utama bagi seseorang untuk bekerja di lingkungan perpustakaan. Sistem klasifikasi memberikan manfaat yang sangat penting dalam perkembangan perpustakaan dewasa ini, manfaat tersebut antara lain ;

  1. Sistem klasifikasi merupakan bagian dari sistem temu kembali informasi, walaupun saat ini telah banyak bermunculan sistem OPAC namun sistem klasifikasi tetap menjadi alat utama temu kembali informasi.
  2. Keterampilan sistem klasifikasi membantu pustakawan mendapatkan poin penilaian yang cukup signifikan.
  3. Sistem klasifikasi membuat penataan koleksi dirak menjadi lebih terorganisir sehingga memudahkan pustakawan dan pemustaka mencari koleksi yang dibutuhkan.

Sumber :
Zen, Zulfikar. 2009. Klasifikasi DDC 22 : buku Kerja. Depok: Program Studi Ilmu Perp. FIB UI.
Darmono. 2007. Perpustakaan Sekolah : pendekatan aspek manajemen dan tata kerja. Jakarta : Grasindo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *