Peran TI dalam Meningkatkan Kinerja Pustakawan

Peran TI dalam Meningkatkan Kinerja Pustakawan

Perkembangan teknologi informasi yang terjadi saat sekarang ini sangat mempengaruhi berbagai bidang kehidupan termasuk di bidang perpustakaan.Perkembangan teknologi informasi yang terjadi di perpustakaan pada saat sekarang ini membawa dampak yang sangat besar dalam segi pelayanan. Namun untuk dapat menghadapi perkembangan teknologi tersebut, sebagai dasar pustakawan harus pandai mengoperasikan komputer dan bisa menggunakan fasilitas internet karena pustakawan harus dapat melayani pemustaka, seperti permintaan akses agar lebih cepat ke bagian informasi tentunya. Untuk dapat sepenuhnya memenuhi harapan tersebut, seorang pustakawan harus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi pada saat sekarang ini, dan meningkatkan kinerja pustakawan itu sendiri karena dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi tentu setiap perpustakaan memerlukan tenaga kerja atau pustakawan yang memiliki keahlian di bidang perpustakaan dan teknologi informasi.

Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan informasi dari sejak menghimpun, mengolah, sampai menginformasikan kepada para penggunanya. Sesuai dengan fungsinya, perpustakaan dituntut untuk memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi yaitu layanan yang dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pengguna perpustakaan. Perpustakaan sebagai lembaga penyedia jasa diharapkan dapat memenuhi kepuasan penggunanya dengan menyediakan berbagai sumber informasi dan memberikan pelayanan yang berkualitas. (Samosir, 2005:28)

Menurut Sulistyo Basuki (1991:87), teknologi informasi adalah teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah serta menyebarluaskan informasi. Informasi ini mencakup 4 kategori yaitu (a) numerik, lazimnya berupa angka; (b) audio, lazimnya berupa suara; (c) teks, lazimnya berupa tulisan; dan (d) citra, lazimnya berupa gambar (image). Lebih lanjut menurutnya teknologi tidak saja terbatas pada perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), tetapi juga mengikutsertakan manusia serta tujuan yang ditentukan, nilai yang digunakan untuk memutuskan apakah  manusia mengendalikan teknologi dan diperkaya oleh teknologi atau tidak.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa teknologi informasi untuk perpustakaan adalah alat (tool) yang berasal dari alat teknologi modern yang mampu meningkatkan dan mempercepat kualitas informasi dan dapat dikendalikan oleh manusia. Beberapa jenis teknologi informasi yang diterapkan di perpustakaan, antara lain: (1) telekomunikasi, (2) sistem komunikasi optik, (3) sistem pita video dan cakram video, (4) komputer, termasuk isi komputer, lingkungan data dan sistem pakar, (5) mikrobentuk, (6) komunikasi suara dengan bantuan komputer, (7) jaringan kerja data, (8) surat elektronik, (9) videoteks dan teleteks (Sulistyo Basuki 1991:88).



Bernardin dan Russel (dalam Tika 2006:121) mendefinisikan kinerja sebagai pencatatan hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu. Sedangkan Pustakawan menurut Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab I Pasal (1) Ayat (8) menjelaskan bahwa Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Pendapat tersebut dapat disimpulkan kinerja pustakawan adalah hasil-hasil pekerjaan yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu oleh seorang yang bekerja di perpustakaan.

Peran Teknologi Informasi Bagi Kinerja Pustakawan

Bagi perpustakaan yang telah atau ingin mengembangkan perpustakaan elektronik, yang diperlukan adalah mengintegrasikan konsep manajemen pengetahuan dalam pemerolehan, pengorganisasian, pemeliharaan dan pendistribusian pengetahuan termasuk pengetahuan informal, tidak terstruktur dan eksternal. Untuk itu, berbagai perangkat pendukung yang diperlukan dan harus dipersiapkan adalah organisasi dan kebijakan yang harus ditetapkan pada tingkat institusi perpustakaan itu sendiri. Dalam hal ini perangkat pendukung yang terpenting adalah seorang pustakawan yang telah siap dan memiliki pengetahuan tentang terbentuknya sebuah perpustakaan yang telah terotomasi dengan baik. Mencermati kondisi pustakawan dalam memberikan layanan perpustakaan dan informasi melalui pengamatan dan berbagai diskusi, ada dua faktor sebagai alasan bahwa citra pustakawan belumlah menggembirakan, antara lain dikarenakan adanya faktor internal dan faktor eksternal.

Ditinjau dari faktor internal, antara lain: 1. Pustakawan masih berkutat pada pelayanan konvensional dengan menggunakan sistem layanan tradisional ; 2. Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia/pustakawan, baik dari kualitas teknis maupun kualitas fungsional, dengan rincian sebagai berikut: dari segi kualitas teknis banyak dijumpai pustakawan yang belum memiliki kemampuan teknis berkomunikasi, manajerial, penguasaan teknologi informasi dan bahasa asing. Sedangkan dari segi kualitas fungsional meliputi dimensi kontak dengan pemakai, sikap, perilaku dan hubungan internal pustakawan ; 3. Terbatasnya sarana penelusuran yang tersedia dalam bentuk abstrak, isi buku, teks penuh (full text) atau dalam bentuk review.

Ditinjau dari faktor ekstenal, antara lain: 1. Perpustakaan belum memiliki komitmen dalam mengembangkan pustakawan sehingga pemberdayaan perpustakaan di seluruh Indonesia masih mengalami kesulitan; 2. Masih rendahnya jiwa kemandirian. Dalam lingkungan organisasi perpustakaan, manajemen pustakawan dilihat sebagai komunikasi ilmiah dan proses penyampaian informasi harus diberi nilai tambah dengan mengorganisasikan pengetahuan yang diciptakan dan dikemas di luar perpustakaan. (Siwiyanti, Leonita, 2009) Perpustakaan hendaklah mampu menjadi penerbit pengetahuan bagi masyarakat pengguna. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan peran dan usaha pustakawan dalam mempromosikan dan mensosialisasikan perpustakaan di lingkungan masyarakat. Peran dan usaha pustakawan tersebut dapat dilihat pada:

Pertama, pustakawan berperan sebagai fasilitator  utama dalam berbagai pengetahuan, dengan menciptakan budaya dan memelihara infrastruktur yang diperlukan untuk mengoperasikan manajemen pengetahuan.

Kedua, pustakawan berperan dalam mengambil manfaat dari konsep manajemen pengetahuan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja perpustakaan. Manajemen pengetahuan dapat dijadikan sebagai pemicu agar pustakawan lebih inovatif dan kreatif dalam menyiasati cakupan elektronik yang harus dicakup dalam konsep perpustakaan elektronik yang telah dikembangkannya selama ini.

Ketiga, pustakawan juga harus berupaya mengidentifikasi pengetahuan eksplisit dan mengembangkan sistem yang diperlukan untuk menanganinya dengan mengembangkan pengetahuan tak terstruktur.

Keempat, pustakawan harus segera mengambil prakarsa untuk mengeksplorasi potensi informasi dan pengetahuan yang terdapat di lingkungannya masing-masing dan mengembangkan sistem untuk penanganannya, termasuk penyiapan sumber daya manusia, organisasi, infrastruktur teknologi informasi dan infrastruktur hukum yang diperlukan untuk itu. (Rader, Hannelore, 2009)

Dengan demikian pustakawan diharapkan dapat memenuhi dan memberdayakan pengetahuan antara lain dengan: dapat meningkatkan kemampuan dalam teknologi informasi yang memadai, dapat mengembangkan komunikasi ilmiah bagi sesama pustakawan, dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan, dan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi manajerial dan kepemimpinan berbasis informasi sehingga diharapkan para pustakawan mahir dalam penggunaan teknologi informasi dan mereka dapat membantu para pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang diperlukan.

Penutup

Penerapan teknologi informasi dalam perkembangan perpustakaan menunjukkan bahwa teknologi informasi memberikan kemudahan luar biasa kepada pengguna untuk mengakses informasi lintas batas. Disisi lain teknologi informasi juga memberikan kemudahan bagi pengelola informasi (pustakawan) untuk mengolah, menyimpan dan menyebarkannya. Selain itu teknologi informasi juga menjadi sarana membangun perpustakaan elektronik yang kehadirannya tidak bisa dihindari. Namun dalam perannya sebuah teknologi tidak dapat berjalan dengan baik bila tidak didukung oleh sumber daya manusia sebagai manajer dalam sebuah perpustakaan. Oleh sebab itu pustakawan harus segera mengambil prakarsa untuk mengeksplorasi potensi informal dan pengetahuan yang terdapat di lingkungannya masing-masing dan mengembangkan sistem untuk penanganannya.

Daftar Pustaka

Leonita Siwiyanti, S.Ag, Peran Teknologi Informasi (Automasi Perpustakaan) dalam Perkembangan Manajemen Perpustakaan, Sukabumi: Perpustakaan Universitas Muhammadiyah. Dikutip dari http//www.lib.itb.ac.id/peran teknologi/pdf. diakses tanggal 20 Mei 2009.

Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Lembaran Negara RI Tahun 2007, No. 4774. Sekretariat Negara. Jakarta

Samosir. “Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Mahasiswa Menggunakan Perpustakaan USU”. Pustaka: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol:1, No. 1, Juni 2005

SULISTYO-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakart: Gramedia Pustaka Utama.

Tika, Pabundu. 2006. Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan. Jakarta: Bumi Aksara

Sumber gambar:
https://www.freepik.com/free-photos-vectors/librarian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *