Penerapan Sistem Keamanan Terhadap Koleksi dan Pelayanan Perpustakaan

Penerapan Sistem Keamanan Terhadap Koleksi dan Pelayanan Perpustakaan

 

 Keamanan koleksi perpustakaan

Masalah keamanan merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kelestarian koleksi perpustakaan. Koleksi perpustakaan dapat mengalami kerusakan di sebabkan oleh faktor alam, seperti sinar matahari langsung dan kelembapan dara, oleh manusia atau hewan. Manusia dalam hal ini pengguna perpustakan yang merupakan penyebab utama kerusakan  fisik pada koleksi perpustakaan. Kerusakan pada koleksi perpustakaan yang di sebabkan oleh manusia mencakup pencurian, penyobekan, peminjaman tidak sah dan vandalisme. Berbagai teknologi pengaman koleksi perpustakaan yang berkembang saat ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan koleksi perpustakaan.

Upaya yang di lakukan untuk mengamankan koleksi di perpustakan adalah dengan memperhatikan keamanan fisik di perpustakaan seperti perancangan arsitektur perpustakaan, penggunaan teknologi keamaanan, kebijakan, prosedur dan rencana. Penyalahgunaan koleksi perpustakaan dapat mengakibtkan kerugian yang sangat besar bagi perpustakaan. Kerugian tersebut mencakup kerugian finansial dan sosial. Kerugian finansial adalah kerugian yang dirasakan oleh perpustakaan dalam hal dana yang harus dikeluarkan untuk menganti koleksi yang rusak, memperbaiki kerusakan kertas, dan menjaga kualitas bahan pustaka. Sedangkan kerugian sosial yang dialam perpustakaan karena adanya koleksi yang rusak antara lain adalah berkurangnya kepercayaan pengguna atau menurunnya citranya perpustakaan sebagai udang informasi. Tindakan penyobekan dapat menimbulkan rasa marah pada pengguna yang menginginkan suatu artikel pada suat majalah yang ternyata tidak tersedia karena disobek pengguna lain. Pengguna terkadang harus menunggu beberapa hari untuk memperoleh artikel yang di inginkan akibat perbaikan majalah oleh pustakawan.

Rasa aman dan nyaman dalam pelayanan di perpustakaan

Perpustakaan menjadi pusat informasi, sumber belajar, tempat penelitian, pendidikan bahkan untuk rekreasi bagi para pengunjung yang memanfaatkannya. Oleh karena itu harus di buat seaman dan senyaman mungking, agar pemustaka merasa senang bahkan menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua. Selain akses informasi mudah di perpustakaan juga dapat menemukan suasana yang bisa menyegarkan pikiran. Rasa aman ini di pengaruhi oleh sarana dan prasarana dan sumber daya manusia (pustakawan dan staf lainnya). Namun dari keduanya  itu faktor manusia menjadi unsur utamanya sedangkan faktor sarana  dan prasarana menjadi faktor penunjannya. Kondisi aman dan nyaman dapat di ciptakan dengan biaya murah dan mudah. Faktor penyebab suasa aman dan nyaman di perpustakaan, tidak hanya di tentukan oleh saran dan prasarana tetapi juga sumber daya lainnya yaitu orang atau manusia yang memberikan pelayanan. Sarana dan prasarana sebagai benda mati, artinya tidak mempunyai perasaan dan hati, sehingga dapat di perlakukan apa saja dan ditempatkan dimana pun, tidak akan berontak dan perotes, berbeda dengan sumber daya yang berwujud manusia, sebagai makluk hidup tentu mempunyai hati, perasaan, simpati dan empati, sehingga harus diperlakukan secara hati-hati karena mahal, rumit dan unik sifat dan karakternya sumber daya manusia sangat dominan dalam menentukan  rasa aman dan nyaman di perpustakaan.

Baik buruknya, maju mundurnya, mudah dan sulitnya akses perputakaan di tentukan oleh manusia sebagai motor penggeraknya secanggih dan sehebat apapun sistem yang dipakai kalau sumber daya manusia yang menjalankannya tidak berkualitas dan tidak berkompeten di bidangya tentu tidak ada artinya. Sebaliknya dengan kondisi yang pas –pasan sarana dan prasarana, sistem informasi itu kalau di kendalikan oleh orang yang berkompeten dan berkualitas pasti akan memberikan akses yang mudah dan lacar. Ini terjdi karena orang yang mempunyai intelektual, yang dapat di perdayagunakan untuk memikirkan kemajuan perpustakaan. Namun yang harus kita ingat masing-masing orang mempuyai kemanpuan yang berbeda, sehingga walaupun secara intelektual sudah menempuh pendidikan yang sama, ternyata dalam pratek kinerjanya yang berbeda. Kepribadian yang unik dan khas dari setiap orang itu dapat di jadikan modal yang hebat bila di kelolah dengan benar. Sebaliknya juga berpotensi merusak citra perpustakaan dan pustakaan itu sendiri bila tidak diarahkan dengan baik dan benar. oleh karena itu seorang manejer perpustakaan tugasnya tidak hanya mengelolah sumber daya berupa barang, tetapi yang lebih penting adalah mengelolah sumber daaya manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya serta karakternya yang unik.

Kondisi perpustakaan pada umumnya

Kalau di lihat dari rasa aman dan nyaman kondidi perpustakaan pada umumnya masi memprihatinkan. Artinya berada di perpustakaan belum memberikan rasa nyaman apalagi aman kondisi tidak nyaman dan aman ini tidak saja semata-mata karena sarana dan prasarana yang tidak memadai, tetapi bisa dari sumber daya manusia di perpustakaan yang kurang menyenangkan.

  1. Sarana dan prasara

pada umumnya kondisi sarana dan prasara di perpustakaan kurang mendapat prioritas dari pimpinan, walaupun pustakawan sudah proaktif mengajukan. Sering terjadi sarana dan prasara perpustakaan sangat minimalis, kalau pun sudah ada tidak memenuhi standar karena sejak awal tidak di peruntukan khusus untuk perpustakaan. Akibatnya sarana dan prasara ini bisa menjadi penyebab tidak aman dan nyaman bagi para pengunjung perpustakaan. Misalnya kursi dan meja tidak memadai, rak terlalu tinggi, terlalu sempit loker tidak ada kuncinyanya, panas, pengat, sempit, banyak barang suasa yang ramei dan berisit jadi seberapa pun perjuangan perpustakaan untuk mengajukan perlengkapan sarana dan prasarana kalau pimpinan tidak mengalokasikan anggaran untuk perpustakaan tentunya tidak dapat direalisasikan. Jadi sangat tergantung pada selerah pimpinan dan seberapa tinggi apresiasinya dengan perpustakaan walapun sudah ada pimpinan yang memapresiasikan perpustakaan tetapi sebatas pada pengembangan koleksi. Dalam kondisi ini peran pustakawan diperlukan untuk memberikan masukan berdasarkan ilmu perpustakaan disinilah pustakawan di uji untuk bisa tampil dengan citranya yang positif. Bermodal sikap, sopan santun, rasa hormat informsi jelas, pennampilan meyakinkan, jujur, kerja keras maka pimpinan akan merespon dengan baik.

  1. Sumber daya manusia.

Faktor sumber daya manusia menjadi penentu terjadinya rasa nyaman dan aman di perpustakan karena manusia memiliki tedensi untuk mencapai tujuan hidup dengan penuh makna dan memuaskan walau sebagai makluk tidak merasa puas, karena kepuasan itu hanya bersifat sementara. Namun manusia ada cenderungnya mendahulukan dan menuntut haknya untuk memuaskan hawa nafsunya, dari pada melaksakan kewajibanya. Tidak semua orang menyadari kewajibannya, sehingga lebih ingat pada haknya semata. Akibatnya pengunjung perpustakaan terabaikan kepentingannya, dan merasa tidak nyaman dengan sikap pustakawan.

Daftar pustaka

Sulistyo-Basuki, 1991. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta: Gramedia

Supriyanto, Wahyu dan Ahmad Muhsin, 2008. Teknologi informasi perpustakaan. Yogyakarta: penerbit kanisius

Suwarno, Wiji, 2007. Dasar dasar ilmu perpustakaan; sebuah pendektan praktis. Yogyakarta: Ar-Ruzz

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *