Tantangan Perpustakaan di Era Cyber Crime

KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian menyebut  Indonesia menjadi salah satu negara yang paling tedampak kasus kriminal di dunia maya (cyber crime). Untuk itu ia mengapresiasi rencana dibentuknya Badan Cyber Nasional guna mengatur regulasi di dunia maya. Menurutnya, cyber crime menjadi salah satu kejahatan transnasional yang paling tinggi dalam catatan Polri. Ia menyebut Indonesia menjadi target kriminal di dunia maya terbanyak. Tingginya dampak cyber crime di Indonesia dipicu oleh angka pengguna internet yang juga tinggi. Sejauh ini, 50 persen dari masyarakat Indonesia memiliki gawai (gadget) demikian dikutip dari mediaindonesia.com .

Menurut pakar teknologi informasi, Forester & Morrison (1994) mendefinsikan kejahatan dunia maya (cyber crime) sebagai aksi kriminial dimana komputer digunakan sebagai senjata utama. Selanjutnya, menurut Hamzah dalam bukunya “Aspek-aspek Pidana di Bidang Komputer “(1989) mengartikan cyber crime sebagai kejahatan di bidang komputer secara umum dapat diartikan sebagai penggunaan komputer secara illegal. Dikuatkan lagi oleh pendapat Tavani (2000) memberikan definisi cyber crime yang lebih menarik, yaitu kejahatan dimana tindakan kriminal hanya bisa dilakukan dengan menggunakan teknlogi cyber dan terjadi di dunia cyber. Dengan demikian untuk kejahatan dunia maya atau lebih familiar dengan sebutan cyber crime jenis-jenisnya sebagai berikut, Illegal access/akses tanpa ijin, illegal content/konten tidak sah, data forgery/pemalsuan data, spionase cyber/ mata-mata, data theft/mencuri data, misuse of decive/ menyalahgunakan peralatan computer, cyberstalking/penyadapan, hijacking dan cyber terrorism.

Kejahatan dunia maya itu sendiri bisa terjadi karena beberapa faktor yakni akses internet yang tidak terbatas sehingga tanpa adanya batasan ruang dan waktu, kelalaian pengguna/pengelola komputer, system keamanan jaringan komputer yang lemah, mudah dilakukan dengan resiko keamanan yang kecil dan tidak diperlukan peralatan yang super modern karena para pelaku merupakan orang yang pada umumnya cerdas, mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan fanatik akan teknologi komputer ditambah lagi kurangnya perhatian masyarakat. Masyarakat dan penegak hukum saat ini masih memberi perhatian yang sangat besar terhadap kejahatan konvensional.

Penanggulangan kejahatan dunia maya tersebut dapat di minimalisir dengan beberapa usaha yakni dengan pengamanan system, penanggulangan secara global, perlunya cyberlaw. Karena terjadinya cybercrime tersebut berdampak terhadap masyarakat, disamping pengaruh  pada jaringan computer di masyarakat namun pengaruh pada jaringan komputer di berbagai bidang pekerjaan dan hasil produksi, pengaruh pada pesaingan dan pengaruh pada kebebasan.

Ancaman Perpustakaan.

Salah Satu tantangan dihadapi pustakawan era digitalisasi adalah bagiamana memproteksi koleksi informasi yang dimiliki dari berbagai macam ganguan dan ancaman yang bisa terjadi perpustakaan. Khususnya pada perpustakaan digital yang banyak memanfaatkan teknologi sebagai media melakukan pengolahan data dan informasi untuk pemustaka nya, telah melakukan langkah inovasi dalam melakukan pelayanan melalui system online yang lebih efisien dalam pelayanan, diseminasi, pemustakaan, pelestarian data dan informasi maupun pengetahuan. Selain itu, semakian tinggi tingkat pemanfaatan teknologi informasi dan semakin modernya suatu bangsa, maka semakain modern pula tingkat kejahatan yang timbul, baik mengenai sifat, bentuk, jenis dan cara pelaksanannya.

Dahulu kejahatan dalam perpustakaan yang semula bersifat konvensional seperti pencurian koleksi, vandalism, mutilasi buku, peminjaman tanpa hak, kini kejahatan dalam perpustakaan dapat dilakukan dengan menggunakan media komputer secara online dengan resiko tertangkap yang sangat kecil oleh individu maupun kelompok dengan akibat kerugian yang lebih besar bagi perpustakaan. Perpustakaan sebagai ruang yang berkembang dalam dunia cyber space yang menyimpan data berupa data buku (tulisan), gambar dan suara dalam bentuk file elektronik melalui jaringan komputer karena itu perpustakaan digital menjadi salah satu objek cyber crime yang sangat menggiurkan bagi pelaku kejahatan cyber crime.

Jika diperhatian lebih teliti bahwa banyak diantara kejahatan-kejahatan digital memiliki sifat yang sama dengan kejahatan terhadap perpustakaan konvensional. Bentuk kejahatan terhadap buku dan perpustakaan ada 4 (empat) macam, yaitu :  Thief (pencurian), Mutilation (perobekan), Vandalism (Corat-coret) serta An-authorized borrowing (peminjaman tak sah) namun perbedaan utamanya adalah bahwa cyber crime dalam perpustakaan digital melibatkan komputer dalam pelaksanannya. Kejahatan yang berkaitan perpustakaan digital perlu mendapat perhatian khusus oleh pustakawan, sebab kejahatan-kejahatan ini memiliki karakter yang berbeda dari kejahatan pada perpustakaan konvensional karena berakibat langsung terhadap kerahasiaan data, integritas data dan keberadaan data dan system operasional perpustakaan digital.

Pelaku cyber crime yang menjadikan perpustakaan digital sebagai objek kejahatannya biasanya mengincar perpustakaan digital sebagai objek kejahatannya biasanya mengincar data pengguna, koleksi atau pun system keamanan dengan motif untuk kepentingan tertentu misalnya data pengguna untuk dijadikan objek marketing, pencurian koleksi untuk kepentingan komersil atau hanya sekedar untuk gigi seorang hacker sebagai pembuktian bahwa dirinya eksis. Perkembangan cyber crime di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna internet.

Dari segi pemerintah sendiri sebenarnya sudah mebentuk cyber law, yakni Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (ITE). Didalam Undang- undang tersebut sudah ditegaskan pada Pasal 30  dan Pasal 31 BAB VII Perbuatan Yang Dilarang dalam dunia maya yakni Pasal 30 Ayat  (1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun . Ayat (2) dst.. dan Pasal 31 Ayat(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain. Ayat (2) dst.

Karena jika melanggar hal tersebut sudah jelas akan mendapatkan efek jera yang sudah ditegaskan pada Bab XI Ketentuan Pidana Pasal 46 UU ITE Tahun 2008 Pasal 46 (1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). (2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah). (3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). Serta pada Bab XI Ketentuan Pidana Pasal 47 UU ITE Tahun 2008 Pasal 47 Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana  penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). (apl/addis18)

 

2 comments on “Tantangan Perpustakaan di Era Cyber Crime
  1. Cornelius Anjar berkata:

    Terima kasih, artikelnya sangat menarik dan bermanfaat bagi saya, khususnya dalam membahas tantangan perpustakaan di era kejahatan siber, baik itu jenis pelanggaran maupun denda.nya..

  2. Dian Kristyanto berkata:

    Ulasan yang menarik sekali.. dari apa yang disampaikan diatas muncul pemikiran dasar yaitu apakah bentuk kejahatan konvensional di perpustakaan seperti Thief, Mutilation, Vandalism, dan An-authorized borrowing akan tetap terjadi pada konteks perpustakaan digital? atau justru ada bentuk tantangan baru yang lebih kompleks..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *