Menantang Teknologi

Perpustakaan sering dikenal sebagai jantung sekolah, pada level perguruan tinggi perpustakaan disebut sebagai pusat ilmu pengetahuan dan keberadaannya di tengah masyarakat sering di kenal sebagai pusat informasi dan pelestari budaya. Hal ini menjelaskan jika perpustakaan merupakan bagian penting dari masyarakat yang belum tergantikan terutama dalam memberikan akses terhadap ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi informasi memunculkan berbagai pengembangan platform berbasis kemudahan akses, sebut saja google dengan inovasi mesin pencarian yang ditawarkan mampu memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menemukan informasi yang dicari melalui internet. Fakta tersebut jelas memberikan pukulan bagi institusi seperti perpustakaan karena keberadaan google memberikan tantangan pada perpustakaan dalam peningkatan kualitas akses terhadap informasi. Google mengubah pandangan pengelolah perpustakaan bahwa mereka perlu melakukan pengembangan yang berbasis teknologi informasi sehingga ke depannya mampu bersaing dengan google dan memenuhi ekspektasi masyarakat. Pengembangan perpustakaan berbasis teknologi memang merupakan terobosan yang sangat dinantikan karena dengan adanya fasilitas dan pelayanan berbasis teknologi informasi dapat menarik kembali minat masyarakat untuk datang ke perpustakaan.

Pesatnya teknologi informasi akhirnya mempengaruhi visi perpustakaan dimana cukup banyak pengelolah perpustakaan yang menjadikan teknologi informasi sebagai basis pencapaian tujuan perpustakaan. Saat ini pengaruh teknologi informasi telah melahirkan beberapa fenomena baru di perpustakaan yaitu adanya literasi informasi, perputakaan digital, e-books, perpustakaan tanpa buku cetak (Bookless Library) dan sebagainya. Suatu tantangan yang besar sudah menanti pengelola perpustakaan mengingat upaya pengembangan masih terganjal adanya transisi tugas pokok perpustakaan dari aktifitas konvensional ke berbasis teknologi.

Lalu apakah perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi informasi ?

Penggunaan teknologi informasi memang diperlukan oleh perpustakaan mengingat masyarakat saat ini tengah merasakan jatuh cinta terhadap media teknologi. Akan tetapi pemanfaatan teknologi di perpustakaan memerlukan analisis yang mendalam supaya tepat sasaran dan memiliki nilai guna positif. Penggunaan teknologi informasi di perpustakaan hendaknya disesuaikan dengan sektor yang membutuhkan pengembangan berbasis teknologi seperti pelayanan sirkulasi, layanan akses informasi berbasis otomasi dan administrasi. Perpustakaan tidak boleh terlena dengan perkembangan teknologi informasi yang saat ini semakin menggila karena sebagai lembaga non profit jelas bukan perkara mudah bagi pengelolah perpustakaan untuk memenuhi pengadaan teknologi informasi yang membutuhkan anggaran yang sangat besar. Oleh karena itu perpustakaan harus melihat sejauh mana potensi perpustakaan untuk melakukan pengembangan berbasis teknologi informasi.

Pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi memang tengah menjadi tren, namun pustakawan sebagai seorang analis perlu memikirkan solusi lain supaya perpustakaan tetap eksis dan mampu bersaing dengan ide-ide lain yang lebih brilian. Salah satu yang dapat dipertimbangkan adalah dengan membuat perpustakaan memiliki kekhasan yang belum pernah dijumpai pada perpustakaan lain. Beberapa perpustakaan yang menginduk pada sebuah institusi seperti sekolah dan perguruan tinggi dapat membangun kekhasan pada perpustakaan dengan melihat potensi civitas yang dapat dijual. Satu contoh semisal pada sekolah tinggi ilmu kesehatan memiliki program studi keperawatan yang terkenal karena mencetak lulusan yang handal dalam analisis tentang penyakit kulit maka potensi tersebut dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan dengan membangun fasilitas dan layanan khusus tentang penyakit kulit yaitu dengan melakukan information package khususnya tentang penyakit kulit serta menfasilitasi jasa konsultasi dengan para ahli sehingga dapat digunakan oleh civitas untuk memperkaya pengetahuan dibidang penyakit kulit.

Kekhasan perpustakaan seperti pada contoh diatas perlu dibangun oleh pustakawan sehingga mampu menjaga konsistensi perpustakaan dan membuat institusi tidak terlalu bergantung pada perkembangan teknologi. Pustakawan perlu melakukan analisis kebutuhan pengguna dan melihat potensi yang dapat dikembangkan dari lingkungan civitas. Pentingnya melakukan analisis bagi pustakawan adalah untuk mengetahui kondisi pasar, hal ini penting dilakukan mengingat sebuah ide kreatif muncul karena adanya potensi dan peluang dari kondisi yang teramati di lapangan.

Membangun ide kreatif tidak hanya dilakukan dengan mengikuti trend teknologi informasi, ada banyak cara yang dapat dilakukan pustakawan guna mewujudkan perpustakaan yang berkualitas. Banyak cara dapat dilakukan oleh pustakawan terutama membuat sesuatu yang berbeda di perpustakaannya sehingga pengguna akan lebih tertarik karena perpustakaannya memiliki fasilitas menarik yang tidak ada di perpustakaan lain. Pustakawan perlu membuat kebijakan yang tepat terutama dalam alokasi anggaran belanja, oleh karena itu jika melakukan perubahan perpustakaan berbasis teknologi membutuhkan anggaran yang besar maka hal tersebut jelas tidak efektif karena belum tentu fasilitas teknologi yang bagus dapat memenuhi ekspektasi pemustaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *