Crowded Zone In Library

Apabila kita pergi ke perpustakaan, maka sering dijumpai petugas perpustakaan menegur pengunjung yang ramai di ruang baca. Hal ini tidak perlu kita sesali karena sejak dulu pengunjung perpustakaan diharapkan untuk membaca dengan tenang di perpustakaan supaya tidak mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Aturan tersebut sampai sekarang masih sering kita jumpai di perpustakaan dan terlebih lagi aturan-aturan itu dicetak dalam bentuk banner dan poster serta di tempel di berbagai tempat di dalam perpustakaan. Sebagai generasi baru yang membutuhkan kebebasan akses kita sering merasa risih terhadap aturan tersebut karena seakan perpustakaan membatasi ruang bagi pengguna untuk berinteraksi dengan pengguna lain. Pemustaka modern tentunya mulai berpikir tidak lagi datang ke perpustakaan dan lebih memilih ke cafe yang memiliki akses WIFI karena perpustakaan terlalu kaku dengan adanya aturan-aturan yang tidak berpihak pada kepuasan pemustaka.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh pustakawan apabila pemustaka mulai meninggalkan perpustakaan hanya karena ada aturan tidak boleh ramai di perpustakaan ?

Dalam upaya memberikan ruang kebebasan berintekasi maka pengelola perpustakaan perlu merancang fasilitas yang user friendly. Fasilitas seperti memberikan ruang diskusi memang sangat penting karena menfasilitasi pemustaka yang menginginkan ruang untuk diskusi dengan sesamanya. Inovasi lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghapus aturan silent mode terutama di area ruang koleksi dan menyediakan ruang baca tersendiri bagi pemustaka yang membutuhkan ketenangan saat membaca. Pustakawan dapat pula membuat aturan baru yang didasari pada keberpihakan pada seluruh pemustaka seperti membebaskan pemustaka untuk berdiskusi, berinteraksi, bercanda, tertawa, ramai di ruang koleksi ataupun diseluruh area perpustakaan pada jam-jam tertentu. Hal ini perlu diterapkan mengingat perpustakaan terus berkembang sehingga aturan-aturan massa konvensional perlu diatur ulang menyesuaikan perkembangan massa sekarang. Perpustakaan sebagai media hening hendaknya mulai digeser karena perpustakaan adalah fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk aktifitas apapun terkait dengan pendidikan hingga hiburan.

Aturan perpustakaan seperti adanya larangan bagi pengguna untuk tidak ramai dan tidak boleh membawa minum harus mulai dihilangkan, mengingat aturan ini sangat diskriminatif karena disaat pengunjung harus mematuhi aturan tersebut disisi lain beberapa oknum petugas perpustakaan justru makan dan minum seenaknya di ruangan, selain itu para oknum petugas perpustakaan juga terlihat asik ngobrol ramai dengan sesama petugas disaat pengguna harus diam karena adanya aturan dilarang ramai. Pada era sekarang aturan-aturannya tersebut sudah tidak lagi populer mengingat masyarakat semakin cerdas dalam memilih, oleh karena itu apabila perkembangan perpustakaan masih diikuti dengan aturan yang kurang berpihak pada pengguna maka bisa saja pemustaka akan lebih memilih untuk mendatangi cafe ataupun ruang publik lainnya yang lebih memberikan keleluasaan pada mereka untuk mendapatkan informasi dan sekaligus menjalin interaksi dengan sesamanya. Perpustakaan akan semakin ditinggalkan apabila masih menganggap pemustaka belum dewasa saat diberikan kebebasan di perpustakaan sehingga aturan menjadi senjata untuk membatasi ruang gerak pemustaka saat berada di perpustakaan. Pustakawan tentunya perlu berpikir ulang untuk merancang desain sistem pelayanan terbaik di perpustakaan yang mampu memenuhi hak-hak dari masyarakat sebagai pengguna perpustakaan. Justifikasi terhadap aturan perpustakaan harus dilakukan oleh pustakawan dengan cara meningkatkan perasaan empati terhadap pemustaka. Empati dapat memposisikan pustakawan sebagai pemustaka sehingga mereka dapat melakukan analisa yang berpedoman pada kebutuhan pemustaka sebelum memutuskan membuat kebijakan aturan perpustakaan.

Keramaian yang dilakukan pemustaka saat berada di perpustakaan merupakan pemandangan yang wajar dan hal semacam itu justru perlu ditanggapi dengan positif oleh pengelola perpustakaan. Aktifitas yang ditunjukkan oleh pemustaka merupakan bentuk ekspresi dari mereka sebagai masyarakat informasi yang membutuhkan ruang kebebasan berpendapat, memperoleh informasi, dan yang paling penting adalah mendapatkan kebebasan bersosialisasi di lingkungan perpustakaan. Pustakawan perlu menanggapinya dengan positif dan menjadikan aktifitas pemustaka sebagai alat analisis dalam upaya pengembangan layanan perpustakaan yang cocok bagi masyarakat penggunanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *