Pustakawan dan Strategi Bisnis SCS

Pustakawan dan Strategi Bisnis SCS

Dewasa ini perpustakaan telah mengalami perkembangan signifikan terutama berkat adanya pemanfaatan teknologi informasi yang masuk ke dalam sistem manajemen perpustakaan. Teknologi membantu pustakawan mempermudah menyelesaikan pekerjaan sebaliknya bagi pemustaka kebedaraan teknologi sangat membantu dalam kemudahan akses dan juga memberikan kenyamanan serta kepuasan saat berkunjung ke perpustakaan. Namun, terlepas dari perkembangan tersebut perpustakaan tetap bergerak sebagai lembaga non profit yang berkembang dan berbenah melalui anggaran yang diperoleh dari lembaga induk maupun dana yang berasal dari bantuan pihak luar. Terlepas dari persoalan tersebut, perpustakaan harus terus berkembang mengingat saat ini telah berdatangan kompetitor lain yang siap menawarkan kemudahan pelayanan di bidang informasi pada masyarakat.

Pustakawan tidak perlu berkecil hati dengan status perpustakaan sebagai lembaga non profit. Sebagai seorang manajerial maka pustakawan harus menunjukkan jika perpustakaan dapat bersaing dengan lembaga lain melalui program kerja yang inovatif dan kreatif sehingga mampu menarik kembali masyarakat untuk datang ke perpustakaan. Walaupun perpustakaan adalah lembaga non profit namun pustakawan dapat mengadopsi strategi-strategi bisnis perusahaan profit oriented yang nantinya dapat disesuaikan dengan program kerja perpustakaan. Terdapat banyak strategi bisnis yang dapat dikembangkan oleh pustakawan sehingga dapat diterapkan di perpustakaan, salah satu strategi yang kiranya tepat dan cocok diadopsi adalah konsep bisnis SCS (Smart – Connected – Society) (Awaluddin, 2016;41). Konsep ini merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk memajukan bisnis, strategi SCS menjadi opsi menarik bagi pustakawan karena dirasa cocok digunakan karena strategi tersebut menfokuskan diri pada keterampilan dari pelaku bisnis yaitu pustakawan.

  • Smart (cerdas dalam pengolahan bisnis)
    Strategi ini apabila diterapkan di perpustakaan memiliki arti bahwa pustakawan sebagai pelaku pasar harus membangun kecerdasan diri dalam hal mengelola informasi sebagai prodak perpustakaan yang nantinya akan di distribusikan pada masyarakat. Mengelola informasi merupakan keunggulan dari pustakawan yang dapat dijual dan menghasilkan keuntungan baik bagi pustakawan maupun lembaga perpustakaan. Oleh karena itu pustakawan perlu meningkatkan keterampilan memanajemen informasi sehingga hasil dari prodak perpustakaan dapat dipasarkan kembali ke masyarakat. Selain itu pustakawan juga harus cerdas dalam menangkap peluang pasar yang tepat guna mempromosikan prodak perpustakaan, kemudian pustakawan juga harus mampu merancang konsep pemasaran yang dapat menarik antusiasme masyarakat untuk melihat prodak unggulan perpustakaan. Pustakawan memiliki tugas besar dalam pemasaran perpustakaan karena sebagai profesional di bidang perpustakaan maka sudah selayaknya pustakawan bersiap mengembangkan ide, gagasan, pikiran untuk perkembangan perpustakaan.
  • Connected (rajin membangun komunikasi dengan pelanggan)
    Strategi ini sangat menarik karena pustakawan dituntut untuk selalui berada pada wilayah front office. Saat ini pustakawan dituntut untuk tidak hanya bekerja pada sektor pengolahan yang setiap hari hanya menangani masalah klasifikasi koleksi, entri data dan sebagainya. Pustakawan sebagai leader sudah waktunya berada di garda depan untuk membangun relasi dan koneksi dengan pemustaka. Pustakawan merupakan konektor yang menghubungkan pemustaka dengan prodak perpustakaan, oleh sebab itu pustakawan harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga mampu menggali keinginan dari pemustaka terhadap informasi yang dibutuhkan di perpustakaan. Keberadaan pustakawan di area front office akan sangat membantu pemasaran perpustakaan, hal ini karena dengan pelayanan yang baik dan memuaskan dari pustakawan akan membangun stigma positif dari pemustaka terhadap kinerja perpustakaan. Pustakawan harus rajin berada di depan untuk melayani pemustaka secara langsung, membangun komunikasi dan memberikan solusi terhadap kebutuhan pemustaka, oleh karena itu pustakawan perlu membekali diri dengan kemampuan public speaking sehingga mereka siap ditempatkan pada sektor-sektor strategis di perpustakaan.
  • Society (membangun komunitas pelanggan)
    Perkembangan sosial media yang begitu intens saat ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh pustakawan, salah satunya adalah dengan membangun kelompok pemustaka dengan memanfaatkan media sosial seperti facebook, wattshaap, telegram dan sebagainya. Pembentukan komunitas pemustaka dirasa penting karena untuk memanajemen kelompok pemustaka aktif maupun menjaring pemustaka baru yang belum pernah mengunjungi perpustakaan. Keberadaan komunitas pemustaka harus optimalkan dan digunakan untuk saling menguntungkan berbagai pihak seperti pustakawan dapat membagi informasi penting bagi pemustaka, mengadakan event yang melibatkan komunitas, membagikan promo menarik bagi komunitas dan sebagainya.

Perpustakaan memang lembaga non profit akan tetapi dalam perkembangan saat ini sangat memungkinkan bagi pustakawan mengadopsi konsep lembaga profit untuk diterapkan di perpustakaan. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan besarnya tuntutan masyarakat terhadap informasi, maka tidak masalah bagi pustakawan menciptakan gagasan baru yang diadopsi dari pihak lain untuk tujuan membangun brand image bagi perpustakaannnya. Langkah tersebut menjadi salah satu terobosan baik mengingat perpustakaan membutuhkan pengembangan baru yang menarik dan tidak membosankan sehingga masyarakat dapat melirik perpustakaan sebagai salah satu tempat yang layak dikunjungi dan dimanfaatkan dengan baik.

Sumber :
Awaluddin, Muhammad, 2016, Digital Entrepeneurshift, Jakarta: Gramedia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *