Pengembangan sistem teknologi perpustakaan berbasis web 3.o

Pengembangan sistem teknologi perpustakaan berbasis web 3.o

Tuntutan pemustaka saat ini adalah ingin mendapatkan informasi diperpustakaan secara mudah, cepat, dan akurat. Internet menjadi fenomena yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan sistem teknologi informasi di perpustakaan. Kebutuhan akan suatu informasi menjadi sangat penting dan sangat menentukan pada saat pemustaka membutuhkan informasi yang akurat dan tepat. Begitu juga para pemustakawannya juga mengkehendaki kondisi perpustakaan yang moderndan semakin memudahkan pekerjaannya. Idelannya sistem teknologi perpustakaan yang akan digunakan hendaknya dibuat sedemikian rupa agar sistem yang mau di bangun cocok diterapkan dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.

Artikel ini bukan hasil peneliti, namun berupa gagasan yang dilandasi oleh pengamatan dilapangan tentang kondisi perpustakaan dan berbagi literatur yang terkait dengan web 3.0.  berangkat dari sedikit pengetahuan dan pengalaman penulis selama pengelola perpustakaan perguruan tinggi, maka bisa dimunculkan permasalahan yang sekitarnya bisa dibahas, yaitu bagaimana pengembangan sistem teknologi perpustakaan yang berbasis web 3.0.

  1. Istilah web 3.0 pertama kali dikemukakan oleh Jhon Markoff tahun 2006 di new York. Apa bila dibandingkan dengan web 1.0 dan web 2.0, maka web 3.0 jelas lebih bagus dan semakin cerdas.  Dalam web 3.0, sumber daya diidentifikasi oleh pengenal global yang dikenal dengan Uniform Resource Identifier (URI). Artinya dapat menyajikan informasi yang tersedia dalam suatu jaringan internet. Namun demikian, meskipun nama – nama web menjadi berbeda karena disesuaikan dengan perkembangannya, tetapi semua secara fundalmental memiliki dasar yang sama. Hanya saja seperti versi sebelumnya, konsensus tentang defenisi untuk web 3.0 bervariasi, termasuk mengenai nama lain yang muncul, seperti: semantic web, transcedent web, dan web of things. Konten internet menjadi lebih beragam dan volume data ayang tersedia menjadi lebih terbuka. Web 3.0 telah terintergrasi secara online melalui generasi baru seperti halnya pada aplikasi sosial media, web semantic, dan mempunyai karakter kalau sistemnya lebih mudah dalam menemukan dan berbagai informasi. Khususnya di indonesia, perpustakaan 3.0 masih dalam taraf pengembangan. Namun demikian layanan perpustakaan yang ,mengarah kepenerapan web 3.0 sedang mengembangkan cara untuk mengintergrasikan ke dalam layanannya melalui berbagai metode, seperti RDA tags, metadata maupun perkembangan web semantik lainnya.

Web 3.0 merupakan generasi ketiga dari world wide web yang diyakini dapat menyatuhkan beberapa tren teknologi, contohnya merangkai tautan data. Dengan menggunakan metadata, maka data akan menjadi informasi yang lebih bermakna, lalu bisa dicari lokasinya, dievaluasi dan dikirim melalui software lain. Penilaian software yang digunakan oleh perpustakaan bisa dilihat dari tampilan aplikasi dan kualitas teknik. Tampilan aplikasi bia diketahui dari: pewarnaan, pemakaian kata dan bahasa, pemakaian tombol kata interaktif, grafis, tombol menu dan ikon, maupun desain interface.

Sementara itu, kualitas teknik dapat dilihat dari: pengoperasian program/aplikasi, respon pemustaka, keamanan program, penanganan kesalahan, maupun fasilitas program. Perpustakaan yang didukung dengan basis data akan menjadikan informasi semakin mudah dikelola dan ditemukan. Melalui web dapat menjadi platform untuk menghubungkan data dan dengan membuat hubungan antara karakteristik yang sama, sehingga data itu sendiri menjadi lebih berharga.

  1. Library 3.0

Perkembangan sistem teknologi informasi yang cepat diperpustakaan akan memacu suatu cara baru yang berpengaruh pada perubahan gaya hidup pemustakanya. Dengan perkembangan kebutuhan informasi pemustaka, maka perpustakaan seharusnya dapat menyediakan sumber informasi yang beragam sesuai kebutuhan, baik itu jenis maupun bentuknya. Saat ini penyebaran informasi menggunakan jaringan komputer menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi.  Pemanfaatan informasi berbasis internet saat ini sudah mewabah menjadi bagian dari gaya hidup modern pemustaka. Jikaa kita amati perilaku pemustaka masa kini terutama mahasiswa, maka kelihatan sekali kalau mereka bangga jika kemana mana membawa perangkat teknologi yang bisa akses internet. pengertian dari library 3.0 menurut Evans (2009 ) adalah bahwa perpustakaan masih akan tetap ada setelaah hadirnya web semantik dan internet yang secara umun menjadi bagiaan dari pencarian informasi dan penggunaan sumber daya informasi dalam kehidupan sehari hari.

Saat ini memungkinkan perpustakaan untuk bertranformasi kearah library 3.0. Cuma masalahnya bagi perpustakaan yang penerapan web 2.0 saja belum terlaksana, sementara sudah dituntut untuk mengadopsi generasi ketiga dengan web 3.0. padahal jikia dibandingkan dengan web 2.0 jelas sudah mengalami perubahan yang lebih sempurna, seperti : dapat berkomunikasi dengan mesin pencari, memiliki kempuan untuk mencari sesuatu data spesifik tanpa harus mencari satu per satu pada situs web, maupun mampu menyediakan keterangan  yang relevaan tentang informasi yang dicari.

Belling, et a.l ( 2011) , menjelaskan kalau perpustakaan 3.0 mengacu pada perpustakaan yang menggunakan teknologi seperti semantik web, perangkat handpone, dan kembali bisa membayangkan dari teknologi yang digunakan seperti federasi pencarian, untuk memfasilitasi dan kolaaaborasi untuk mempermosikan dan membuat kemudahan koleksi untuk diakses. Mengenai elemen kunci yang ada dari web 3.0 adala sebagai berikut :

  1. Pengenalan bahasa pemrograman baru dengan kemampuan untuk mengkategorikan dan memanipulasi data yang memungkinkan mesin untuk memahami data, dan frase yang menggabarkan data.
  2. Kemampuan memperoleh informasi kontekstual dari pencarian web dan menyimpannya secara hierarkis, sesuai dengan karakteristik yang sama untuk memudahkan pengambilan  dan spesifik.
  3. Kemampuan untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber semakin besar dan lebih luas dari sumber, termasuk pada aplikasi sebelumnya.
  4. Kemampuan untuk membuat dan berbagi semua jenis data melalui semua jenis jaringan oleh semua jenis perangkat dan mesin.

Web 3.0 mampu mengorganisasikan isi dan menu baru sehingga mungkin bagi software dan aplikasinya untuk mengumpulkan, menginterprestasikan dan menggunakan data yang dapat menambahkan arti dan struktur ke informasi yang sebelumnya tidak ada. Mengenai alur informasinya, dapat dikirim secara cepat karena msin dapat melakukan penelusuran dan transaksi sesuai dengaan pilihan pemustaka yang akses. Jika kita mengenaal interoperabilitas data untuk perbaikan sistem informasi perpustakaan, maka kemampuan dua atau lebih sistem informasi untuk berbagi data dan saling tukar menukar informasi dan kemudian masing masing perpustakaan dapat menggunakan informasi yang dipertukarkan menjadi suatu yang menarik untuk diwujudkan. Hal ini perpustakaan bisa melakukannya sebelum proses integrasi data. Untuk diketahui bagaimana pun intergraasi data adalah fondasi data dari web 3.0. Dengan asumsi bahwa menggunakan meta data yang tertanam di website, data dapat diubah menjadi informasi yang berguna, dan diketahui lokasinya, dievaluasi, disimpan atau dikirimkan oleh software yang dirancang utnuk mengumpulkan informasi berdasarkan interaksi pemustaka dengan web. Data yang dikumpulkan akan dikategorikan secara hirarkis untuk menghubungkan data dengan karakteristik serupa, dan dimanapun dapat dibagi dan dipahami oleh setiap perangkat melalui  jaringan apapun. Sebelum mewujudkan library 3.0, perluh kiranya dijabarkan karakteristik yang memungkinkan dari library 3.0, misalnya :

  1. Pengembaangan dari library 1.0,  dan library 2.0.
  2. Muncul sebagai akibat dari pengaruh teknologi web 3.0.
  3. Sebagai generasi web ketiga yang cerdas.
  4. Adanya aspek budaya dalam penerapannya.
  5. Sistem teknologi dengan model partisipasi pemustaka dan kolaborasi.
  6. Dibangun agar dapat diakses secara online dari luar perpustakaan.
  7. Pemustaka menjadi lebih aktif dalam layanan perpustakaan berbasis web.
  8. Menggabungkan aspek sosial budaya dalam mengembangkan sistem perpustakaan.
  9. Adanya interaksi pemustaka dalam suatu komunitas
  10. Dapat melakukan penelusuran terhadap berbagai informasi yang relevan dengan permintaan pemustaka.
  11. Dapat  melakukan pemeringkatan terhadap informasi yang telah ditemukan.
  12. Pemustaka memiliki peran besar dalam menentukan konten maupun pengelolaan informasi.
  13. Mengakomodir kebutuhan dan perubahan perilaku pemustaka yang semakin global.
  14. Menyediakan ruanag bagi pemustaka untuk terlibat dalam sistem perpustakaan.
  15. Pemustaka didorong ikut aktif dalam layanan perpustakaan.
  1. Teknologi web 3.0.

Pemanfaatan teknologi informasi diperpustakaan sangat banyak,  salah satunya digunakan untuk berinteraksi dan saaling tukar informasi. Sebenarnya penerapan sistem teknologi informasi perpustakaan bisa diterapkan sebagai :

  1. Sistem informasi manajemen untuk pengadaaan dan pengolahan.
  2. Sarana untuk menyampaikan, mendapat, dan menyebarkan informasi.

Perpustakaan berupaya untuk menampilkan informasi yang semenarik mungkin dengan mengolah data, memproses, sampai dengan mengorganisasikan tampilan informasi agar menghasilakn informasi yang sesuai, relevan, akurat, tepat, yang berkualitas pada akhirnya dapat digunakaan untuk  memenuhi kebutuhan informasi pemustaka.

Menurut Berners-lee, et, al (2001) dalam Bruwer dan Rudman  (2015:1042) web 3.0 akan bergantung pada berbagai teknologi yang berbeda. Beberapa diantaranya masih dalam pengembangan, sementara yang lain sudah untuk berbagai tingkaat yanag telah diimplementasikanpada web. Hubungannya dengan web, ontologi menjelaskan tentang penggaliaan deskripsi informasi web, dan memahaami hubungan antara informasi web tersebut.

  1. Kesimpulan

Web 3.0 tidak diwakili oleh munculnya web baru melainkana perpanjangan dari teknologi yang sudah ada di web 2.0. Jadi bagi pustakawan yang sudah menerapkan prinsip yang ada dalam library 2.0, maka saat mulai mencoba mengaplikasikaan web 3.0 di perpustakaan tidaak terlalu berat. Untuk menuju perpustakaan 3.0 membutuhkan pustakawan yang kompeten. Pustakawan harus selalu mengikuti perkembangan ilmu dan kebutuhan pemustakanya. Para pustakawan perluh memiliki kemampuan penerawangan beberapa tahun kedepan untuk memperdiksi kemungkinan perkembangan pemustakaan kedepan yang sesuai dengan tren pemustakaannya. Jadi pemenuhan kebutuhan akan sistem teknologi perpustakaan harus ditunjang dengan kebutuhan pustakawan yang mempunyai kapasitas dan kompetensi di bidang teknologi informasi, karena jika tidak maka teknologi yang dilakukan dengan biaya yang besar akan sia sia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *