Mengenal Shelving Buku Dan Cara Mengerjakannya

Shelving koleksi merupakan suatu istilah dari penataan koleksi di rak yang dilakukan pada lembaga penyedia informasi seperti di perpustaskaan. Shelving koleksi atau buku adalah kegiatan menata/meletakkan kembali koleksi yang selesai diolah/dibaca/dipinjam pada rak buku yang tersedia berdasarkan sistematika pengurutan yang telah ditetapkan. Sistematika pengurutan buku secara umum mengacu pada sistem klasifikasi yang digunakan. Biasanya sistem klasifikasi yang sering dipakai oleh pustakawan untuk mengelompokkan koleksi menggunakan Dewey Decimal Classification (DDC).

Pada dasarnya kegiatan shelving bertujuan untuk memudahkan kembali pencarian koleksi, sehingga pemustaka yang akan mencari buku tentang subjek tertentu dapat dengan mudah mengetahui letak koleksi tersebut. Proses shelving buku sering dilakukan pada saat menjelang jam tutup perpustakaan, hal ini dilakukan karena proses shelving membutuhkan ketelitian sehingga waktu yang dihabiskan cukup panjang. Kegiatan inipun dikerjakan oleh pustakawan yang bertugas pada bagian koleksi umum dan biasanya dibantu oleh volunter yang merupakan pegawai magang atau pegawai lain yang memang ada jadwal piket untuk mengerjakan shelving buku.

Lalu kenapa buku yang dibaca tidak dikembali langsung oleh pemustaka?

Perpustakaan di Indonesia masih belum familiar untuk menggalakkan kegiatan shelving mandiri, hal ini karena pengetahuan pemustaka terhadap kegiatan shelving masih sangat terbatas. Hal lain yang ditakutkan adalah buku tersebut terselip pada tempat lain karena pemustaka tidak melihat nomor klasifikasi untuk menentukan lokasi buku tersebut. Oleh karena itu aktifitas shelving buku dibebankan oleh pustakawan, sedangkan pemustaka cukup meletakkan buku yang dibaca pada meja atau pada tempat khusus yang digunakan untuk menampung koleksi yang dibaca oleh pemustaka. Pada era perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatnya di perpustakaan yang semakin masif, kegiatan shelving buku masih terus dilakukan secara konvensional. Aktifitas ini sangat bergantung pada ketelitian dan keterampilan pustakawan dalam memahami sistem klasifikasi buku.

Pada perkembangannya saat ini telah banyak metode shelving buku seperti penataan koleksi berdasarkan subjek, pengurutan dengan menyesuaikan warna label buku, dan sebagainya. Namun metode tersebut tetap memperhatikan sistem klasifikasi yang menjadi nomor identitas dari buku tersebut. Oleh karena itu apapun metodenya, kegiatan shelving buku tetap membutuhkan keberadaan pustakawan baik sebagai orang yang mengerjakan langsung kegiatan tersebut atau sebagai mentor ahli bagi pegawai lain yang ditugasi untuk melakukan kegiatan shelving buku.

Bagaimana cara melakukan shelving buku?

Kegiatan shelving buku sebenarnya pekerjaan yang mudah terutama bagi mereka yang sudah memiliki ketelitian tinggi dan terbiasa dengan pekerjaan itu. Untuk lebih jelasnya tentang kegiatan shelving maka berikut cara mudah melakukan shelving buku, yaitu;

  • Pastikan jika buku yang akan dishelving sudah diberi label pada punggung buku. Label buku berfungsi untuk memudahkan buku untuk dicari dirak, hal ini karena label buku berisikan kode klasifikasi buku, tiga huruf depan nama pengarang dan satu huruf depan judul buku. Susunan kode pada label inilah yang dijadikan pegangan bagi pustakawan maupun pemustaka dalam mencari buku di rak.
  • Kelompokkan buku berdasarkan nomor klasifikasi, sebelum buku diletakkan di rak hendaknya dikelompokkan terlebih dahulu sesuai nomor klasifikasinya sehingga dapat memudahkan penataan di rak. Salah satu contohnya jika ada buku dengan nomer klasifikasi 615 maka kelompokkan buku tersebut dengan buku lain yang memiliki nomor klas 615. Jika sudah maka untuk proses penataan dirak, perhatikan angka setelah titik (.) urutkan angka tersebut dari angka terkecil ke angka terbesar. Jika buku tersebut memiliki nomor klas yang sama (perhatikan gambar) maka pengurutan buku dapat berdasarkan pada tiga huruf depan nama pengarang (lihat gambar).

Sumber: LIPI

Pada intinya proses shelving buku dilakukan dengan memperhatikan sistematika nomor klasifikasi dan juga mengacu pada sistem alfabetis tiga huruf depan nama pengarang yang ada pada label buku. Pustakawan atau pemustaka tidak dapat seenaknya melakukan shelving tanpa melihat terlebih dahulu label buku, hal ini karena tata letak buku dirak sangat mempengaruhi tingkat penggunaan informasi perpustakaan. Apabila sebuah buku diletakkan tidak pada tempat yang seharusnya, maka informasi tersebut tidak akan dapat ditemukan oleh pemustaka sehingga buku yang harusnya dapat dipinjam/dibaca menjadi kehilangan pembacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *