Minat Baca Anjlok “Peringkat 60 Tak Bisa Dibanggakan”

Minat Baca Anjlok “Peringkat 60 Tak Bisa Dibanggakan”

Perpustakaan merupakan tempat dimana segala informasi dapat ditemukan. Keberadaan perpustakaan dianggap sangat penting karena beribu-ribu ilmu dapat dijumpai disana dengan mudah. Karena sangat dianggap penting pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan. Fungsi utama perpustakaan adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat yang dilayaninya atau biasa disebut sebagai pemustaka.

Berbicara mengenai membaca, membaca adalah kegiatan yang sangat bermanfaat dan begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena membaca merupakan jendela dunia, hanya dengan membaca seseorang dapat mengetahui berbagai ilmu-ilmu baru dan informasi-informasi yang aktual. Banyak orang-orang sukses berasal dari kecintaannya terhadap membaca buku dan belajar. Disini pustakawan berperan sebagai agen perubahan untuk menciptakan masyarakat membaca (reading society) sebagai salah satu pilar utama untuk menuju masyarakat belajar (learning society). Menumbuhkan minat baca masyarakat bukanlah hal yang sulit, namun tidak juga pekerjaan yang mudah, karena pada zaman yang serba canggih seperti ini sangat mudah masyarakat dapat menemukan berbagai informasi. Namun minat baca pada masyarakat tetap saja rendah, hal ini menunjukan bahwa tingkat minat baca masyarakat tidak hanya disebabkan karena sumber informasi yang kurang, akan tetapi juga merupakan kondisi psikologis atau mentalis pada diri seseorang.

Berdasarkan studi “Most Littered Nation in the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai minat membaca. Hal tersebut berarti Negara Indonesia menempati peringkat kedua paling rendah. Indonesia persis berada dibawah Thailand dengan peringkat 59 dan di atas Botswana berada di peringkat 61. Padahal, dari segi penilaian infrastruktur pendukung kegiatan membaca, peringkat Indonesia berada di atas Negara-negara Eropa. Tidak hanya itu, berdasarkan hasil penelitian perpustakaan Nasional tahun 2017, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali perminggu, dengan durasi waktu membaca perhari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan pertahun rata-rata hanya 5-9 buku. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Faktor yang menjadi pendorong bangkitnya minat baca ialah ketertarikan, kegemaran, dan hobi membaca. Pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca. Berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik jenis, jumlah maupun mutunya. Dengan begitu menumbuhkan minat baca dapat dimulai dari sejak usia dini. Salah satu upaya untuk menumbuhkan minat baca pada masyarakat adalah dengan mempromosikan perpustakaan. Dengan demikian perpustakaan dapat memperkenalkan, membimbing, dan meningkatkan pendayagunaan perpustakaan oleh masyarakat.

Sumber gambar: news.mit.edu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *